7 Indikator Kebahagiaan

Ibnu Abbas RA adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dijuluki Turjumaanul Qur’an(ahli menerjemahkan Alquran). Dia sangat telaten menjaga dan melayani Rasulullah SAW. Dia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW. Pada usia sembilan tahun Ibnu Abbas telah hafal Alquran dan telah menjadi imam di masjid.

Sejak kecil Ibnu Abbas sudah menunjukkan kecerdasan dan semangatnya menuntut ilmu. Beragam gelar diperolehnya. Seperti faqih al-ashr (ahli fikih di masanya), imam al-mufassirin (penghulu ahli tafsir), dan al-bahr (lautan ilmu).

Suatu hari, ia ditanya seorang tabiin (generasi sesudah para sahabat) mengenai kebahagiaan dunia. Ibnu Abbas menjawab ada tujuh indikator kebahagiaan dunia.

  1. Hati yang selalu bersyukur. Selalu menerima apa yang diberikan Allah SWT dengan ikhlas. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (QS al-Mu’minun [23]: 1).
  2. Pasangan hidup yang saleh. Pasangan saleh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang saleh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada keshalehan. Sebaliknya, istri yang shalehah akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suami dan anak-anaknya.
  3. Anak yang shaleh. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim). Rasulullah SAW pernah menjawab pertanyaan seorang anak muda yang selalu menggendong ibunya yang uzur. “Ya Rasulullah, apakah aku termasuk berbakti pada orang tua?” Rasulullah SAW menjawab, “Sungguh Allah ridha kepadamu, kamu anak shaleh, berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu.”
  4. Lingkungan yang kondusif untuk iman kita. (QS at-Taubah [9]: 119). Rasulullah SAW juga mengajarkan agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasihati kita. Pentingnya bergaul dengan orang shaleh, dapat kembali membangkitkan semangat keimanan.
  5. Harta yang halal. Dalam Islam kualitas harta adalah yang terpenting, bukan kuantitas harta. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam Bab Shadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus, namun sayang makanan, minuman, dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan.”
  6. Semangat memahami agama. Semakin belajar, semakin cinta kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya.
  7. Umur yang berkah. Semakin tua semakin shaleh, yang setiap detiknya diisi amal ibadah. Orang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, hari tuanya akan sibuk berangan-angan. Hatinya kecewa bila tidak mampu menikmati yang diangankannya. Orang yang mengisi umurnya dengan amal ibadah, semakin tua semakin rindu bertemu Allah SWT.
source

Abdurrahman Al-Gonzaga: Calon Pastor yang Menjadi Ustadz

Sumber : republika online 1, republika online 2, republika online 3, republika online 4

Ketika menghadapi cobaan berat, Abdurrahman Al Gonzaga dihadapkan pada dua pilihan. Terus bertahan atau menyerah. Rupanya, takdir membawa pria kelahiran Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) itu pada hidayah Islam. Ia pun menjadi mualaf. Namun, setelah itu, ia dihadapkan pada tantangan yang sangat berat sebagai seorang Muslim. Tahun-tahun pertama usai mengucap dua kalimah syahadat, Abdurrahman menghadapi aneka kendala. Tidak mudah menjalani hari-hari, lantaran kesulitan pada berbagai aspek. Begitu pula ketika berniat lebih mendalami Islam. Padahal, ia sangat ingin menjadi Muslim yang sebenarnya. Berbagai kendala dan tantangan itu tidak menggoyahkan imannya. Abdurrahman terus berjuang. Ia menimba ilmu agama walau terkadang harus dicapainya sendiri. Hingga suatu saat, ia sampai pada kesimpulan. Selaku mualaf, ia harus proaktif, tidak bisa hanya menunggu. Itulah kunci suksesnya. Kini, ia aktif membina para mualaf. Abdurrahman mendirikan komunitas mualaf di Yogyakarta, dan rutin mengadakan kegiatan agama. Ia berharap, para mualaf memperoleh pembinaan, perhatian, serta bimbingan, sehingga mereka bisa mempertebal kecintaannya kepada Islam. *** Abdurrahman menginjakkan kaki di Tanah Jawa, tepatnya di Yogyakarta, tahun 1993 silam. Tujuannya hanya satu, yakni menempuh studi di Seminari Tinggi Misionaris Keluarga Kudus, di Jl Kaliurang. ‘’Saya dikirim oleh keluarga dan keuskupan agung Kupang ke seminari untuk dididik khusus menjadi imam atau pastor,’’ paparnya, beberapa waktu lalu. Ia pun tekun belajar agama. Maklum, menjadi pastor adalah dambaan keluarga besarnya, karena ayah serta beberapa kerabatnya, adalah tokoh agama di Kupang. Sehingga ia diharapkan bisa mengikuti jejak langkah mereka pula. Hanya, setelah lima tahun berjalan, Abdurrahman merasa tidak sanggup untuk menjadi pastor. Dirinya belum siap untuk selibat, hidup sederhana, berkaul, dan lainnya. ‘’Sehingga, saya memutuskan untuk keluar dari biara,’’ tutur pria kelahiran tahun 1971 itu. Selanjutnya, ia tinggal di kos-kosan, yakni di Kampung Lelet, di sebelah selatan Condong Catur, lingkungan komunitas Muslim. Bahkan pemilik rumah kosnya juga orang Muslim. ‘’Itu memang kebetulan, awalnya saya tidak berpikir macam-macam apakah harus kos di rumah yang pemiliknya Nasrani.’’ Dan kebetulan tersebut membawanya ‘berkenalan’ lebih dekat dengan Islam. Kampung Lelet membuat Abdurrahman berinteraksi dengan umat Islam. Dia pun mengaku baru mengenal sosok kaum Muslim, kehidupan ibadahnya, dan lain-lain, di sana.

Lama kelamaan, hadir perasaan yang mengganjal. Sebelumnya, ia lebih banyak mendengar cerita dan kisah tentang umat Islam yang berkonotasi negatif. Islam identik dengan kekerasan, suka membawa pedang, dekat dengan kemiskinan, terbelakang, dan sebagainya.

Kenyataannya, ternyata tak seperti itu. Apa yang dilihatnya di kampung Lelet sungguh sangat berbeda. ‘’Orang Islam sangat ramah dan baik, saya merasa akrab berbaur di antara mereka,’’ aku Abdurrahman yang bernama asli Arnold al Gonzaga itu.

Sampai datang bulan suci Ramadhan. Tiada satu warung makan yang buka. Abdurrahman yang masih Nasrani, kesulitan untuk dapat makan siang. Terpaksa ia harus berjalan jauh agar menemukan warung yang buka.

Langkah kaki membawanya ke sebuah kedai makan kecil, di dekat rumah orangtua angkatnya di Condong Catur. Dia pun mampir dan makan di sana.Terdorong rasa penasaran, usia makan, Abdurrahman bertanya pada si pemilik warung. Namanya bu Sarjono, pensiunan pegawai TVRI.

‘’Ibu puasa tidak?’’ tanya dia. Lantas dijawab, ya. Abdurrahman bertanya lagi, ‘’Apakah saat saya makan, ibu terganggu?’’ Bu Sarjono menjawab kembali, ‘’Saya memang puasa, Mas, tetapi sewaktu melayani orang makan, ya tidak masalah.’’

Seketika, jawaban itu mengagetkan Abdurrahman. ‘’Saya terpana, tapi heran. Itu pengalaman luar biasa bagi saya. Bagaimana tidak, ada orang sedang berpuasa, lantas melihat orang makan, tapi dia tidak terganggu. Ini sulit saya pahami,’’ dia menuturkan.

Sepanjang perjalanan pulang ke kos, dia masih terngiang kata-kata Bu Sarjono. Bahkan hingga menjalani ibadah ke biara, baik pagi, siang, petang, maupun malam, apa yang didengarnya itu tetap membekas. Ditambah dengan pengalamannya bersama komunitas Muslim di Kampung Lelet.

Abdurrahman merasa tambah dekat dengan Islam. Setiap upaya untuk mencoba mengabaikan rasa itu, termasuk dengan aktif di kegiatan gereja, tidak juga menolong. ‘’Akhirnya, saya berkesimpulan, dalam Islam juga ada cinta kasih.’’

Awal  2000, rasa gelisahnya semakin kental. Ia tak kusuk lagi beribadah di gereja. Kepada orangtua angkatnya yang juga tokoh gereja, ia lantas ungkapkan uneg-unegnya, namun mendapat reaksi keras.

Ia diminta tidak lagi berbaur dengan keluarga Sarjono, atau umat Islam lainnya. Ia tidak boleh keluar rumah, dan memperbanyak meditasi. Abdurrahman mengaku tidak bisa membohongi kata hatinya, sehingga ia pergi dari rumah orangtua angkatnya, dan pindah kos.

Sejumlah tokoh agama Islam ia  sambangi untuk berkonsultasi. Temannya yang sudah mualaf pernah membawanya kepada Ustaz Jatnika. Lantas, ia dipertemukan dengan Kakanwil Depag DIY, Sugiyono. Sejak itu, dia kerap ikut ke masjid, melihat umat Muslim yang sedang shalat.

‘’Saya jadi ingin shalat juga. Maka, tanggal 1 April 2000, saya minta disyahadatkan,’’ tegas Abdurrahman. Pengucapan dua kalimat syahadat berlangsung di Masjid Kakanwil Depag. ‘’Hati saya plong’’.

Di tengah bahagianya, ujian berat muncul. Dia tidak mungkin kembali ke gereja, rumah orangtua angkatnya, terlebih keluarganya di Kupang. Untuk sementara waktu, ia tinggal di rumah temannya, dan bekerja sebagai sales dan bisnis jaringan.

Tidak mudah menjadi mualaf. Hal itu dirasakannya pada lima tahun pertama. Selama itu, Abdurrahman mengaku belum menemukan model pembinaan seperti diharapkan. Padahal, sebelumnya ia membayangkan, pembinaan bagi mualaf telah terprogram, punya tahapan jelas.

Beberapa lembaga dan majelis taklim yang didatangi, ternyata belum sesuai harapan. ‘’Kita ingin dibimbing untuk belajar ibadah dasar, mengaji Alquran, mengkaji maknanya, dan sebagainya, intinya pembinaan yang terarah, namun itu belum saya temukan,’’ ucapnya.

Dia sempat putus asa dengan kondisi ini. Akan tetapi, tekadnya telah bulat, tantangan tersebut tidak sampai melemahkan semangatnya berislam. Maka, Abdurrahman meniatkan belajar mandiri, bertanya pada teman, atau dari ustaz ke ustaz.

Alhamdulillah, Allah SWT membukakan jalan. Dia dipertemukan dengan orang-orang yang bisa memberikan ilmu serta menjadi panutan. ‘’Buat saya, Islam ya seperti ini. Allah tunjukkan beberapa alternatif, tinggal saya kemudian memilih.’

Ahad pagi, pelataran belakang kediaman keluarga Bambang Triatmodjo di Kavling Madukismo no 28 Seturan, Condong Catur, Yogyakarta, tampak semarak. Ada belasan orang di sana. Mereka merupakan jamaah Majelis Taklim ar Rahmah.

Satu kesamaan di antara para anggotanya, baik Muslim dan Muslimah, yakni sama-sama mualaf. Inilah majelis taklim binaan Abdurrahman Al Gonzaga, yang salah satu programnya membina para mualaf. Pengajian rutin dilakukan setiap Ahad.

Lokasi pengajian selalu berpindah tempat, biasanya digelar di kediaman para donatur. ‘’Sebab, kami belum punya tempat atau kantor permanen, jadi masih pindah-pindah,’’ papar Abdurrahman.

Meurut dia,  anggota majelis taklimnya mencakup sekitar 30 KK, atau 70-an jiwa. Meski begitu, yang aktif mengikuti pengajian sebanyak 20-30 jamaah. Materi pengajian disusun sedemikian rupa, mulai dari pelajaran shalat atau ibadah dasar, membaca Alquran, diskusi, dan lainnya.

Seperti yang terlihat saat itu, mereka serius menyimak tausiyah dari seorang guru agama. ‘’Pengajian ini sudah terbentuk sejak dua tahun lalu. Alhamdulillah terus berkembang,’’ paparnya.

Hadirnya majelis taklim itu berangkat dari pengalaman pribadi Abdurrahman. Dia menginginkan agar para mualaf memperoleh pembinaan yang intensif. Dirinya telah merasakan begitu berat perjuangan pada masa-masa awal menjadi mualaf.

Abdurrahman mengisahkan, bahwa bila hanya sekadar teknis ibadah, semisal shalat, wudhu, dan sebagainya, tidak terlampau sulit dipelajari. Tetapi ketika harus melakukan secara istikamah, misalnya, shalat lima waktu, ternyata sungguh perjuangan berat.

Subuh dan Ashar diakui paling sulit untuk rutin ditunaikan. Padahal, biasanya dia bisa bangun pagi. Tapi, ‘’Ketika sudah masuk Islam, justru susah sekali.’’ Akhirnya, shalat lima waktunya ‘bolong-bolong’. Ayah dari dua putri ini tak ragu menyebut belum menunaikan shalat wajib dengan baik.

Dari situlah, dia mulai merasakan hidupnya tidak terarah, mudah berpikiran negatif, bahkan kerap putus asa. Sampai dia bertemu rekan sesama mualaf, Ibu Wiwik namanya, pada tahun 2005. Ia menanyakan kabar Abdurrahman, yang segera dijawab bahwa hidupnya kian susah setelah masuk Islam. Tak dinyana, ibu Wiwik bertanya tentang shalat lima waktunya.

‘’Ya, masih bolong-bolong,’’ jawab dia. Maka sekonyong-konyong, Bu Wiwik berkata, ‘’Ya wajar hidupmu susah, kewajibanmu terhadap Allah SWT saja belum terpenuhi kok kamu minta hakmu.’’

Kata-kata itu menyentuh bathinnya yang terdalam.  ‘’Sejak itu, saya memaksakan diri untuk selalu shalat lima waktu. Hingga sekarang,’’ tegas Abdurrahman.

Ibadah lain yang juga dirasakan berat yakni puasa. Sebab, ini adalah hal yang baru baginya. Memang, dalam agama Katolik ada puasa pula, tapi puasa yang dilakoni hanya mengurangi porsi makan. Sedangkan di Islam, tidak boleh makan sama sekali.

Maka, selama enam tahun pertama, dia tidak bisa puasa penuh.  Dan hidayah kembali datang. Pada suatu malam takbiran, di kampung istrinya diadakan lomba takbir keliling. Menyaksikan itu, tanpa terasa ia menangis.

‘’Karena saya berpikir, mereka bertakbir untuk merayakan kemenangan atas hawa nafsu dan puasa sebulan penuh, tapi saya rayakan apa?’’ tanya Abdurrahman dalam hati. ‘Sentuhan’ itu membuatnya membulatkan niat, untuk bisa puasa penuh pada Ramadhan berikutnya.

Dikatakan, yang mengalami problema serupa ternyata bukan hanya dia sendiri, melainkan rekan sesama mualag  yang lain. Hidup jadi susah, ekonomi sulit, susah bergaul, dan banyak lagi. Namun apabila dirunut lagi, sambungnya, masalah berawal dari ibadah shalat yang belum benar.

‘’Semua itu harus dibenahi. Belajar dari sana, saya pun memacu diri serta terus memotivasi teman-teman lain untuk beribadah dengan sebenarnya,’’ tutur dia lagi.

Kepada dirinya sendiri, keluarga, dan teman mualaf, Abdurrahman selalu menyampaikan bahwa mereka dipanggil masuk Islam bukan sekadar memeluk agama ini, tapi harus berjuang memantapkan iman Islam, dan itu harus dimulai dari diri sendiri.

‘’Masuk Islam bukan suatu kebetulan, tapi hidayah dan rahmat Allah SWT. Kalau cara pandang kita seperti itu, insya Allah membuat kita kuat ketika menghadapi kesulitan dan aneka tantangan,’’ tuturnya berpesan.

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Yusuf Assidiq

Nasihat Beliau

Hendak bercerita mengenai apa yang terjadi pada saya Selasa lalu. Kira-kira 5 hari yang lalu.

Saya, memang jenis orang yang sulit percaya hasil orang lain. Saya juga, jenis orang yang terlalu keras kepala mempertahankan apa yang saya kepingin. Entah ini baik atau tidak, yang jelas ini sudah sifat saya sejak dahulu. Saya akan lakukan apapun sampai apa yang saya mau tercapai, atau sampai saya dapat menerima jawaban “tidak” untuk keinginan saya.

Nilai salah satu mata kuliah saya adalah D. Ini kali pertama saya mendapat nilai D. Mata kuliahnya pun 3 sks. Selasa itu, saya ke kampus berniat untuk mengurusi masalah beasiswa. Pertama sampai, saya ke jurusan melihat nilai. Tidak. Ini buruk. Harusnya saya tidak usah lihat lebih detail. Mata kuliah 3 sks itu, saya lihat jelas nilai-nilai UTS dan UAS saya. Semuanya kecil dan aah hancur. Saya baru sadar itu. Kedua nilai tersebut 37 dan 37.

Sudah lelah dengan hasil itu, saya coba abaikan. Saya urus saja transkrip nilai, pergilah saya ke dekanat FMIPA. Sekian jam saya dioper ke atas ke bawah, akhirnya saya mendapatkan transkrip itu, IP saya kurang dari 3. IPK saya turun jauh.

Saya hanya bisa beristighfar saat itu, “astaghfirullah, apa yang terjadi dengan saya akhir-akhir ini? Terlalu pemalaskah?”

Tersirat langsung mengenai persyaratan beasiswa saya.

Tiap semester tidak boleh ada IP yang kurang dari 3. Kesempatan kurang dari 3 hanya boleh 1 semester.

Ya, saya sudah bercerita kan mengenai beasiswa Triputra saya? Beasiswa sampai saya lulus? Kesempatan itu kini telah terpakai. Dan saya tidak punya kesempatan lagi. Sisi perfeksionis saya muncul. Saya harus mengusahakan satu mata kuliah agar nilainya naik! Ya, mata kuliah D itu. Saya harus mengusahakan agar nilainya bisa C, seenggaknya IP saya bisa pas 3.

Finally, saya menelpon bapak dosen terkait, meminta bertemu. Besoknya, Rabu, saya bertemu beliau, pukul 9.

Keesokan harinya, tepat pukul setengah 9 saya datang. Dengan penuh harap, saya datang ke kantor beliau. Entah ini jiwa korupsi atau apa. Saya pun tidak tahu. Bisa dibilang iya, saya seakan memaksakan kehendak saya, dan saya tidak mau menerima kenyataan nilai D saya.

Beliau, menanyakan apa masalah saya. Saya menjawab, saya hanya ingin tahu kenapa nilai saya bisa sangat kecil 37. Hanya 37, padahal saat itu Open Book. Apa tidak ada nilai yang lebih baik? Begitu pikir saya. Saat itu saya memang hanya berfikir tentang persyaratan beasiswa saya harus terpenuhi, apapun caranya. Bodohnya.

Beliau mencari kembali kertas ujian UTS dan UAS saya. Ketemu. Diserahkannya lah kertas-kertas tersebut pada saya, periksa ulang. Saya mengamati, harap-harap cemas. Ini saya yang mengerjakannya? Saya nampak bodoh. Ini open book dan saya masih tidak bisa? Saya seakan hanya menyalin apa yang ada dalam buku dan saya tak memahami maksud pertanyaannya.

Setelah yakin, nilai 37 itu memang murni hasil ujian saya, saya terdiam. Hampir menangis. Hilang sudah harapan mendapat nilai C. Jujur, saya memang tidak mengerti apa yang saya pelajari selama ini di mata kuliah ini. Tapi… kenapa harus ketika saya punya tanggungjawab mempertahankan IP? Kenapakah?

Beliau, mungkin sadar mata saya berkaca-kaca. Kemudian beliau menatap saya, sambil berkata “Anda jangan pernah berfikir Bapak menyisihkan Anda, mengorbankan Anda. Berfikir bahwa harus ada korban dari mata kuliah ini, dan itu Anda. Jangan pernah ya berfikir seperti itu. Ini untuk kebaikan Anda. Bapak siap menerima siapapun mahasiswa yang ingin belajar langsung sama Bapak. Apabila ada mata kuliah yang tidak dimengerti tanyakan langsung sama Bapak. Intinya, Bapak tidak pernah menyisihkan Anda di mata kuliah Bapak. Anda percaya kan sama saya?”

Dan Anda tahu saya menjawab apa?

“Hehehe, iya pak..”

Saya hanya jawab itu. Saya tertawa terkekeh sambil menahan tangis. Hehe. Memang saya gampang nangis. Jadinya harus ketawa biar nahan air matanya keluar. Kemudian beliau menyimpan kembali kertas ujian saya. Saya mengambil kesempatan menyeka air mata saya yang hampir jatuh ketika beliau memunggungi saya.

Jujur, dalam hati saya saat itu, saya bergumam. Bodohnya saya. Dosen sebaik ini, sampai saya tidak percayai beliau, sampai saya berburuk sangka terhadap beliau. Saya malu, Bapak. Sangat malu. Bapak guru besar yang sangat hebat. Hanya saya saja yang tidak tahu diri masih saja tidak percaya terhadap Bapak. Terimakasih Pak, ini tamparan sekaligus pelukan nasihat seorang dosen terhadap mahasiswanya.

Saya hela nafas dalam-dalam, lalu berpamitan. Refleks, saya mencium tangan beliau. Entah itu wujud terimakasih saya atau apa, seakan beliau adalah ayah saya sendiri, yang sedang menasihati anaknya atas IP nya yang sedang jatuh.

Kini, saya tidak lagi boleh bergantung terhadap siapapun. Berjuanglah dengan usaha sendiri, berdoalah pada-Nya. Mohonkanlah Ilmu-Nya. Karena semua ini datang hanya dari Allah… Teguran ini, pasti Allah yang Rancang… agar saya segera mengevaluasi diri, dan membangun kembali resolusi baru di semester berikutnya.

Ya Allah, I’m really thankful… Suatu pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Semoga bisa jadi cerita yang bermakna bagi anak cucu saya kelak. He…

Ikhlas Akan Kebodohan

Mengingat akhir-akhir ini saya terus galau masalah akademik saya yang menurun, saya jadi teringat ceramah pengajian waktu saya KKN di Sawah Kulon baru-baru ini. Ustadz yang menyampaikan saat itu adalah Ustdz Aep, dan temanya adalah 5 sifat tercela manusia.

Saya hanya ingin konsen pada satu poin mengenai sifat tercela manusia. Poin ini merupakan poin pertama yang beliau bahas. Sumbernya ada, kitab gitu, isinya tulisan bahasa Arab semua, saya gak begitu hafal bagaimana arabnya, dan salah satu sifat tercela manusia yang harus dijauhi adalah :

“Al-Qona’ah bil Jahil”

Saya gak tahu bahasa Arabnya bener atau nggak. Yang pasti artinya, bodo tong dipiara, bodoh itu jangan dipelihara, bahasa bagusnya : Jangan ikhlas dengan kebodohan kita.

Gak semua manusia itu pintar secara akademik. Ada manusia yang mulia dari sisi kedermawanannya, ada juga dari sisi keramahannya, kerajinannya, dan banyak sisi-sisi yang lain. Bisa dikatakan, ada manusia yang pintar, ada juga manusia yang tidak pintar (bodoh). Satu hal yang penting, kalau tahu kita ini bodoh, jangan lekas kita pasrah akan kebodohan kita, begitu kata Ustdz Aep.

Jangan malah berkata, “ah bae lah, da urang mah bodo ieu wajar lah ipk ge leutik” [leutik -> kecil]

Mungkin memang sudah suratan takdir saya tidak bisa menyerap materi kuliah secepat dan setajam teman-teman yang lain. Saya tidak bisa mengingat materi dalam jangka waktu yang lama. Saya pun ketika sedang down karena tidak bisa mengerjakan ujian masih kadang berfikir, “emang dasar gue yang bego sih ya”. Tapi kadang juga jika memandang sisi lainnya, oh ketidakbisaan saya dalam mengerjakan soal ujian bukan karena saya yang bodoh, tapi karena saya yang kurang berusaha.

Nah, nyambung juga loh sama percakapan drama korea di film The Moon that Embraces The Sun. Hehe. Suatu ketika seorang gadis remaja bernama Yeon U pernah menasihati seorang pangeran remaja bernama -lupa-. Mereka sedang berbincang mengenai masalah si pangeran muda tersebut. Pemuda itu terus menyalahkan dirinya dan orang lain tentang masalah dia. Lalu Yeon U menasihati,

Why are you blaming your self? A farmer doesn’t blame that the ground isn’t fertile and a musician doesn’t blame that the instrument. The problem is with the owner, it doesn’t depend on whatever target.

Allah, Melihat dengan sudut yang paling tepat. Bukan dari hasil, tapi dari proses. Sama seperti harga kita di depan Allah, bukan sebanyak apa kita terus beribadah, tapi sebesar apa keyakinan kita ketika melakukan ibadah.

Selama darah muda masih mengalir deras, semangat tidak boleh pernah pudar. Ayoo!!

Sepeninggal Oma

Hari pertama dalam sejarah kehidupan ayah, idul Adha tanpa omaku. Oma meninggal selasa 2 minggu lalu. Tepat ketika ayah sedang rapat di bekasi, ibu sedang kuliah di kampusnya, kakak dan adik-adikku sedang menuntut ilmu, dan aku yang sedang praktikum. Tidak ada satupun dari keluarga kami yang sempat menengok oma yang kepergiannya sangat sangat sangat tiba-tiba.

Ini kisah yang aku curi dengar dari kakak sepupuku. Ceritanya, pagi hari itu, hari dimana oma sebenarnya sudah ditakdirkan untuk kembali pada-Nya, oma masih beraktivitas seperti biasa di rumah beliau. Oma yang sudah ditinggal opa sejak lamaaa sekali itu masih suka bekerja keras walau umur sudah tua. Tapi wajah oma masih segar loh…. :)

Tiba-tiba oma mengeluh sakit dada. Entah, oma memang akhir-akhir ini mengeluh sering pusing, cepat capek, dan lain sebagainya. Dan ketika sakit, oma sangat susah diminta ke rumah sakit untuk check up atau sekedar berobat biasa. Anehnya, oma saat mengeluh sakit dada itu langsung mau diajak ke rumah sakit. Oma, andai aku tahu itulah waktu terakhirmu oma….

Kebetulan, anak oma ada yang masih tinggal di rumah oma, Uwa Dian dan Om Rifky. Mereka meminta tolong ayahku untuk mengantar oma ke rumah sakit. Tapi ayahku sedang rapat, akhirnya ayah meminta tolong yang lain yang mengantar oma. Dapatlah… dan oma pun pergi bersama Uwa Dian, Om Rifky, dan kakak sepupuku, kak Anggi.

Masih biasa. Suasana masih seperti biasa. Sebenarnya aku tak tahu jelas bagaimana alur cerita yang detailnya, yang jelas dokter meminta Oma untuk cek darah. Namun, ketika itu,,,, sedengarku dari cerita kak Anggie, oma yang sedang tertidur di ranjang kamar rumah sakit, tiba-tiba mengorok keras. Keras. Keras sekali, dan bahkan seakan korokannya itu mengeluarkan sesuatu dari kerongkongannya. Oma tidak nampak kesakitan lama. Oma langsung meninggal dengan damai. Sedihnya, kejadian itu sangat tiba-tiba. Hingga belum ada yang sempat membimbing kalimat2 Allah…. tapi semoga oma sendiri pun sudah berdzikir dalam hatinya.. :)

Saat itu juga keluarga langsung menghubungi seluruh kerabat dekat. Keluarga oma terbilang keluarga-keluarga yang cukup mapan. Kita ada keturunan bangsawan (kata ayah sih hehe) makanya nama oma pun ada Raden nya. Dari medan sampai lampung pun kita masih ada hubungan saudara. Sungguh kaya sekali keluargaku ini :D

Sontak semua kaget. Aku baru saja 5 menit pulang dari kampus, langsung shock dan tak bisa berkata apapun ketika mendapat sms dari ibu yang diforward dari ayah bahwa Oma Djuwita Resmi wafat… Dalam benakku langsung terbayang wajah mungil oma yang selalu dan selalu tersenyum. Suara oma sangat pelan, sehingga ketika mengobrol denganku aku harus mendekatkan telingaku dan memperhatikan bibir oma baik-baik. Lucu sekali omaku ini.. Oma,, aku rindu….

Entah aku lebay atau apa,, mungkin memang aku gak begitu dekat dengan oma. Oma sangat dekat dengan abangku. Ultah mereka sama, dan abang suka memberi kado ulangtahun untuk oma seperti al-Quran, ibuku juga pernah memberi oma mukena. :’)

Aku sempat menangis sebentar di rumah. Langsung aku bergegas janjian dengan ibu dan abang yang berangkat bersama dari kampus ITB. Kita janjian di RS Santo Yusup karena kabarnya Oma meninggal di RS. Karena keluarga mendesak untuk mengurus Oma sendiri, akhirnya Oma dibawa pulang malam itu. Sekitar maghrib kami sampai di rumah oma, (dari RS). Adikku yang mahasiswa menyusul sendiri dari kampusnya. Aku sempat tidak mau masuk, karena aku ini orangnya cepet banget nangis. Belum aku melihat kondisi oma, aku udah nangis di luar rumah. Om Rifky memintaku masuk, tapi aku tetap ingin diluar dulu, dengan adik. Ibuku masuk ke dalam, entah ngapain, dan ayah,,,, ayah berangkat langsung dari bekasi menuju bandung, demi oma.. Abang yang menjemput ayah di jalan suci. Suasana nampak begitu gelap, suram, dan penuh tangisan. Kakak sepupuku yang lain (adiknya ka anggi), yang umurnya lebih muda dariku tapi sudah kuliah, sedang menangis tersedu karena ditinggal oma. Maklum, dia tinggal dengan oma sejak dulu. Nampak teman2 kuliahnya datang menjenguk, jauh2 dari polban..

Aku diluar, bertemu dengan mas eka. Kakak sepupuku yang lain, yang seumuran denganku. Kami semua menunggu ayahku. Entah mengapa, semua menunggu ayahku. Setelah ayah datang, oma langsung dimandikan. Sungguh, aku sebenernya pengen ikut mandiin, tapi selain tempatnya penuh, aku gak tega….. Itu oma.. Oma yang suka tersenyum dan membelikan kami chiki-chiki  dan es krim. Oma yang baik,, yang lembut.. Maaf oma, aku kembali menangis…

Aku melihat semua prosesinya. Ayahku tak tampak menangis, tapi raut wajahnya beda. Tak pernah seperti ini. Beda. Kau tau, ayahku memang begitu. Tak mau orang lain tau kesedihannya. Ayah pergi meninggalkan rapat pun, ayah tak bilang bahwa oma meninggal. Ayah…

Semua yang urus ayahku. Mengusap tubuh oma dengan sabun, mengeramas rambut oma, membasuh, membalikkan, mengangkat. Ibu-ibu yang mengkafani oma. Aku ikut andil sedikit disitu. Ibuku pun sibuk mengurusi jenazah oma. Aku baru pertama kali melihat jenazah, tapi oma sama sekali tidak terlihat seperti telah meninggal atau bagaimana. Oma hanya sedang tertidur, hanya saja Oma takkan pernah bangun. Aku pegang kakinya, dingin. dingin sekali. Tak sekalipun kurasakan suhu yang hangat seperti biasa

Oma,, benarkah oma telah pergi??

Aku tak henti menangis. Sampai-sampai aku lupa, dari pulang ngampus tadi aku tak sempat makan nasi, di kampus pun belum, sarapan pun belum. Intinya, sehari itu aku belum makan apapun. Kepalaku terasa berat, mana aku pergi2an bawa motor, masuk anginlah…

Oma telah selesai dikafani, cantiknya… seperti bayi :) ) Sungguh, oma seperti hanya sedang tertidur. Kemudian kami menyolatkan oma. Aku ikut, dan ayahku jadi imam. Lagi-lagi ayahku…. Tahukah kamu teman-teman, takbir pertama ayah bergetar sungguh hebat. Aku tak tahan menahan tangis.. Suaranya seperti sedang menangis tapi tidak menangis, aku bisa merasakan itu.

“Allaaaaahu Akbar”

4 takbir kami jalani, dan kami akhiri dengan salam..

Selesailah.

Beberapa ada yang pamit pulang, sebagian yang lain mengisi perut dulu dengan makanan. Bagaimanapun manusia pasti butuh makanan untuk bertahan hidup. Kepalaku sudah pusing berat karena menangis dan belum makan apapun. Aku putuskan makan dulu baru pulang ke rumah untuk bersiap esoknya pemakaman oma.

Esoknya, sebelum mengubur jenazah oma, ada sepatah dua patah kata dulu dari sanak keluarga yang diwakilkan oleh ayahku. Lagi, ayahku mengeluarkan suaranya dengan getaran hebat, menahan tangisnya, dan berusaha tegar didepan khalayak ramai. Mungkin ayah tidak ingin mengiringi kepergian oma dengan tangisan. :)

Lagi, ayahku yang sibuk mengubur jenazah oma. Oma punya 6 anak, 2 perempuan, dan 4 laki-laki. Ayah sama sekali tak terlihat menangis. Yang aku tahu, setelah solat jenazah malam itu, ayah pergi ke kamar oma dan menjalankan solat Isya sendiri. Atau solat apa, aku ga tau… Yang jelas, itu lama… dan tidak mau terganggu..

========================================================

Sekarang,, Oma sudah tidak ada. Ayah dengan santai sempat bertanya pada adikku,, “Oma udah ga ada,, sekarang idul Adha nya gak sama Oma.. Usan rindu gak sama oma??” Adikku, usan menjawab simpel, “Iyalah.. kangen”

Ayahku, saat proses pemakaman oma, memintaku untuk mendokumentasikan semuanya. Aku merekamnya, dari sambutan, dan segala macamnya. Lalu, aku memindahkan filenya ke komputer rumah. Ayahku menonton videonya. Nampak wajahnya beda lagi. Tapi tidak menangis. Ayah hanya menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya lagi, seolah berkata “ikhlaskanlah….”

Ayah,, aku harap ayah kuat.. Oma,, aku rindu… sangat rindu mengingat hidung dan bibirku selalu dibilang sangat mirip oma, hehe,, berarti aku cantik dong, soalnya kata aku, oma cantik loh hehehehehe :p

Tetaplah berjuang teman-teman. Berjuang dalam jalan-Nya. Karena maut selalu menghantui kita, entah kapan, dimana, dalam kondisi apa, dan bagaimana caranya. Tidakkan kita ingin meninggal dalam keadaan berjuang dalam jalan Allah. Sungguh itu merupakan kematian yang indah..

Ahead of Iraq Deployment, 37 Korean Troops Revert to Islam

“I became a Muslim because I felt Islam was more humanistic and peaceful than other religions. And if you can religiously connect with the locals, I think it could be a big help in carrying out our peace reconstruction mission.” So said on Friday those Korean soldiers who converted to Islam ahead of their late July deployment to the Kurdish city of Irbil in northern Iraq .

At noon Friday, 37 members of the Iraq-bound “Zaitun Unit,” including Lieutenant Son Hyeon-ju of the Special Forces 11th Brigade, made their way to a mosque in Hannam-dong, Seoul and held a conversion ceremony.

 

Captain Son Jin-gu from Zaitoon Unit recites an oath at ceremony to mark his conversion to Islam at a mosque in Hannam-dong, Seoul on Friday. /Yonhap

The soldiers, who cleansed their entire bodies in accordance with Islamic tradition, made their conversion during the Friday group prayers at the mosque, with the assistance of the “imam,” or prayer leader.

With the exception of the imam, all the Muslims and the Korean soldiers stood in a straight line to symbolize how all are equal before God and took a profession on faith.

They had memorized the Arabic confession, ” Ashadu an La ilaha il Allah, Muhammad-ur-Rasool-Allah,” which means, “I testify that there is no god but God (Arabic: Allah), and Muhammad is the Messenger of God.”

Soldiers from Zaitoon Unit pray after conversion ceremony at a mosque in Hannam-dong, Seoul on Friday./Yonhap

Moreover, as the faithful face the “Kaaba,” the Islamic holy place in Mecca , Saudi Arabia , all Muslims confirm that they are brothers.

For those Korean soldiers who entered the Islamic faith, recent chances provided by the Zaitun Unit to come into contact with Islam proved decisive.

Taking into consideration the fact that most of the inhabitants of Irbil are Muslims, the unit sent its unreligious members to the Hannam-dong mosque so that they could come to understand Islam. Some of those who participated in the program were entranced by Islam and decided to convert.

A unit official said the soldiers were inspired by how important religious homogeneity was considered in the Muslim World; if you share religion, you are treated not as a foreigner, but as a local, and Muslims do not attack Muslim women even in war.

Zaitun Unit Corporal Paek Seong-uk (22) of the Army’s 11th Division said, “I majored in Arabic in college and upon coming across the Quran, I had much interest in Islam, and I made up my mind to become a Muslim during this religious experience period [provided by the Zaitun Unit].”

He expressed his aspirations. “If we are sent to Iraq , I want to participate in religious ceremonies with the locals so that they can feel brotherly love and convince them that the Korean troops are not an army of occupation but a force deployed to provide humanitarian support.”

source : ini

Monotheist vs Atheist

At an educational institution: Professing to be wise, they became fools….
“LET ME EXPLAIN THE problem science has with God.”

The atheist professor of philosophy pauses before his class and then
asks one of his new students to stand.
“You’re a Muslim, aren’t you, son?”

“Yes, sir.”

“So you believe in God?”
“Absolutely. “

“Is God good?”

“Sure! God’s good.”

“Is God all-powerful? Can God do anything?”

“Yes.”

The professor grins knowingly and considers for a moment.

“Here’s one for you. Let’s say there’s a sick person over here and
you
can cure him. You can do it. Would you help them? Would you try?”

“Yes sir, I would.”

“So you’re good…!”

“I wouldn’t say that.”

“Why not say that? You would help a sick and maimed person if you
could
in fact most of us would if we could… God doesn’t.”

[No answer]

“He doesn’t, does he? My brother was a Muslim who died of
cancer even though he prayed to God to heal him. How is this God
good?

Hmmm? Can you answer that one?”
[No answer]

The elderly man is sympathetic. “No, you can’t, can you?” He takes a sip of water from a glass on his desk to give the student time to relax. In philosophy, you have to go easy with the new ones.
Let’s start again, young fella.”

“Is God good?”

“Er… Yes.”

“Is Satan good?”

“No.”

“Where does Satan come from?” The student falters.

“From… God…”

“That’s right. God made Satan, didn’t he?” The elderly man runs his bony fingers through his thinning hair and turns to the smirking, student audience.

“I think we’re going to have a lot of fun this semester,
ladies and gentlemen.”

He turns back to the Muslim. “Tell me, son. Is there evil in this world?”

“Yes, sir.”

“Evil’s everywhere, isn’t it? Did God make everything?”

“Yes.”

“Who created evil?”

[No answer]

“Is there sickness in this world? Immorality? Hatred? Ugliness? All the terrible things -do they exist in this world?”

The student squirms on his feet. “Yes.”

“Who created them? “

[No answer]

The professor suddenly shouts at his student.

“WHO CREATED THEM? TELL ME, PLEASE!”

The professor closes in for the kill and climbs into the Muslim’s face. In a still small voice: “God created all evil, didn’t He, son?”

[No answer]
The student tries to hold the steady, experienced gaze and fails. Suddenly the lecturer breaks away to pace the front of the classroom like an aging panther. The class is mesmerized.

“Tell me,” he continues,” How is it that this God is good if He created
all evil throughout all time?”
The professor swishes his arms around to encompass the wickedness of the world.
“All the hatred, the brutality, all the pain, all the torture, all the death and ugliness and all the suffering created by this good God is all over the world, isn’t it, young man?”

[No answer]

“Don’t you see it all over the place? Huh?”

Pause.

“Don’t you?”

The professor leans into the student’s face again and whispers, Is God good?”

[ No answer]

“Do you believe in God, son?”

The student’s voice betrays him and cracks.

“Yes, professor. I do.”
The old man shakes his head sadly. “Science says you have five senses you use to identify and observe the world around you. You have never seen God, Have you?

>”No, sir. I’ve never seen Him.”

>”Then tell us if you’ve ever heard your God?”

“No, sir. I have not.”

“Have you ever felt your God, tasted your God or smelt your God…in fact, do you have any sensory perception of your God whatsoever?”
[No answer]

“Answer me, please.”

“No, sir, I’m afraid I haven’t.”

“You’re AFRAID… you haven’t?”

“No, sir.”

“Yet you still believe in him?”

“…yes…”

“That takes FAITH!” The professor smiles sagely at the underling. According to the rules of empirical, testable, demonstrable protocol, science says your God doesn’t exist. What do you say to that, son? Where is your God now?”

[The student doesn't answer]

“Sit down, please.”
The Muslim sits…Defeated. Another Muslim raises his hand.
“Professor, may I address the class?”

Another Muslim raises his hand.
“Professor, may I address the class?”

The professor turns and smiles. “Ah, another Muslim in the vanguard! Come, come, young man. Speak some proper wisdom to the gathering.”

The Muslim looks around the room. “Some interesting points you are making, sir. Now I’ve got a question for you.

“Is there such thing as heat?”

Yes, the professor replies. “There’s heat.”

“Is there such a thing as cold?”

“Yes, son, there’s cold too.”

“No, sir, there isn’t.”

The professor’s grin freezes. The room suddenly goes very cold. The second Muslim continues.
“You can have lots of heat, even more heat, super-heat, mega-heat, white heat, a little heat or no heat but we don’t have anything called ‘cold’. We can hit 458 degrees below zero, which is no heat, but we can’t go any further after that. There is no such thing as cold, otherwise we would be able to go colder than 458 – - You see, sir, cold is only a word we use to describe the absence of heat. We cannot measure cold.”

“Heat we can measure in thermal units because heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it.”

Silence. A pin drops somewhere in the classroom.

“Is there such a thing as darkness, professor?”

“That’s a dumb question, son. What is night if it isn’t darkness? What are you getting at…?

“So you say there is such a thing as darkness?”

“Yes…”

“You’re wrong again, sir. Darkness is not something; it is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light but if you have no light constantly you have nothing and it’s called darkness, isn’t it? That’s the meaning we use to
define the word. In reality, Darkness isn’t. If it were, you would be able to make darkness darker and give me a jar of it. Can you…give me a jar of darker darkness, professor?” despite himself, the professor smiles at the young effrontery before him. This will
indeed be a good semester.

“Would you mind telling us what your point is, young man?”

“Yes, professor. My point is, your philosophical premise is flawed to start with and so your conclusion must be in error….”

“The professor goes toxic. “Flawed…? How dare you…!”

“Sir, may I explain what I mean?”

The class is all ears.

“Explain… oh, explain…” The professor makes an admirable effort to regain control. Suddenly he is affability itself. He waves his hand to silence the class, for the student to continue.

“You are working on the premise of duality,” the Muslim explains. “That for example there is life and then there’s death; a good God and a bad God. You are viewing the concept of God as something finite, something we can measure. Sir, science cannot even explain a thought. It uses electricity and magnetism but has never seen, much less fully understood them. To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing.”

“Death is not the opposite of life, merely the absence of it.” The young man holds up a newspaper he takes from the desk of a neighbors who has been reading it.

“Here is one of the most disgusting tabloids this country hosts, professor. Is there such a thing as immorality?”

“Of course there is, now look…”

“Wrong again, sir. You see, immorality is merely the absence of morality. Is there such thing as injustice? No.”

“Injustice is the absence of justice. Is there such a thing as evil?”
The Muslim pauses.

“Isn’t evil the absence of good?”

The professor’s face has turned an alarming color. He is so angry he is temporarily speechless.

The Muslim continues. “If there is evil in the world, professor, and we all agree there is, then God, if he exists, must be accomplishing a work through the agency of evil. What is that work, God is accomplishing? Islam tells us it is to see if each one of us will, choose good over evil.”

The professor bridles. “As a philosophical scientist, I don’t vie this matter as having anything to do with any choice; as a realist, I absolutely do not recognize the concept of God or any other theological factor as being part of the world equation because God is not observable.”

“I would have thought that the absence of God’s moral code in this world is probably one of the most observable phenomena going,” the Muslim replies.

“Newspapers make billions of dollars reporting it every week! Tell me, professor. Do you teach your students that they evolved from a monkey?”

“If you are referring to the natural evolutionary process, Youngman, yes, of course I do.”

“Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?”

The professor makes a sucking sound with his teeth and gives his student a silent, stony stare.

“Professor. Since no-one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavor, are you not teaching your opinion, sir? Are you now not a scientist, but a priest?”

“I will overlook your impudence in the light of our philosophical discussion. Now, have you quite finished?” the professor hisses.

“So you don’t accept God’s moral code to do what is righteous?”

“I believe in what is – that’s science!”

“Ahh! SCIENCE!” the student’s face splits into a grin.

“Sir, you rightly state that science is the study of observed phenomena. Science too is a premise which is flawed…”

“SCIENCE IS FLAWED..?” the professor splutters. The class is in uproar. The Muslim remains standing until the commotion has subsided.

“To continue the point you were making earlier to the other student, may I give you an example of what I mean?”

The professor wisely keeps silent. The Muslim looks around the room.

“Is there anyone in the class who has ever seen air, Oxygen, molecules, atoms, and the professor’s brain?”

The class breaks out in laughter. The Muslim points towards his elderly, crumbling tutor.

“Is there anyone here who has ever heard the professor’s brain…felt the professor’s brain, touched or smelt the professor’s brain?”

No one appears to have done so. The Muslim shakes his head sadly.
“It appears no-one here has had any sensory perception of the professor’s brain whatsoever. Well, according to the rules of empirical, stable, demonstrable protocol, science, I DECLARE that the professor has no brain.”

NOW IT IS EVERYONE’S CHANCE TO LEARN MORE ABOUT ISLAM, ABOUT
GOD,
ABOUT THE PURPOSE OF Existence, creation & life, ABOUT THE PROPHETS OF GOD, & ABOUT HIS HOLY BOOKS, ESPECIALLY THE HOLY QUR’AAN.
THEN IT IS YOUR CHOICE TO BECOME A MUSLIM, OR NOT.
ALLAAH SAYS IN THE HOLY:

“THERE IS NO COMPULSION IN RELIGION “

“There is no compulsion in religion; truly the right way has become clearly distinct from error; And he who rejects false deities and believes in Allah(The God) has grasped a firm handhold which will never break. and Allah is ALL-Hearing, All-Knowing”
[ 2:256 ]

“Allah is the Protecting Guardian of those who believe. He brings them out of the darkness into the light; As for those who disbelieve, their guardians are false deities. They bring them out of light into darkness”
[ 2:257 ]

AL-QUR’AAN (CHAPTER # 2, VERSES # 256-257) They are much nicer and more sound in Arabic)

The Muslim sits… Because that is what a chair is for!!! (^_^)v

Give The Best!

lagi baca buku bagus nih, hehehe yang judulnya “Bahagia Dunia Akhirat” karangan Husein Anis Habsyi. Keren deh, seriusan. :)
Tiba-tiba terhenti pada satu selingan yang bagus dan cukup menarik. Ada pada Bab “Berikan yang Terbaik!”

 

Let Me Give

author : B. J Morbitzer

I do not know how long I’ll live

But while I live, Lord, let me give

Some comfort to someone in need

By smile or nod, kind word or deed

And let me do what ever I can

To ease things for my fellow man.

I want naught but to do my part

To “lift” a tired or weary heart.

To change folks’ frowns to smiles again.

Then I will not have lived in vain

And I’ll not care how long I’ll live

If I can give … and give … and give

Bila kau berbuat baik, namun orang melupakannya, tetaplah berbuat baik.

Bila kau menolong orang, namun ia tidak berterimakasih, tetaplah menolong sesama.

Bila kau bermaksud baik, namun disalahpahami, tetaplah bermaksud baik.

Bila kau jujur, namun orang memanfaatkanmu, dan menipumu, tetaplah bersikap jujur.

Bila kau berterus terang, namun orang menertawakanmu, atau tersinggung, tetaplah berterus terang.

Bila kau meraih kesuksesan dan berdatangan teman-teman palsu, dan ketika kau bernasib malang, mereka mulai meninggalkanmu, tetaplah bersikap ramah dan bersahabat.

Bila keberhasilan yang kau usahakan bertahun-tahun diruntuhkan orang dalam semalam, janganlah putus asa, tetaplah membina dan membangun.

Ketahuilah bahwa pada akhirnya nanti, kau akan tahu bahwa kebaikan yang kau tanam dan kau tebarkan selama ini akan membuahkan kebaikan yang sangat banyak. Dan pada akhirnya nanti kau akan menyadari bahwa semuanya itu adalah antara kau dan Allah, dan yang berlaku adalah ketetapan dan penilaian Allah. Dan jangan kau lupa, Allah selalu berada di pihak orang-orang yang benar. Karena itu, berikanlah kepada umat manusia yang terbaik yang dapat kamu lakukan :)

jalan di tempat atau maju?

Mungkin kritis itu penting, bagus. Membuktikan kalo akal kitaini bekerja, berputar, mencari.

Akan tetapi jangan sampai kekritisan itu malah menjebak kita untuk terus berputar di lingkup itu terus.

Maksudnya, dibandingkan mempertanyakan sesuatu sampai ke hal yang paling kecil, lebih baik maju kan? Moso kita mau pusing pusing mikirin hal yang memang terlalu pusing untuk diperhitungkan.

Manusia memang hebat, keren, pintar. Jepang saja sekarang ini berhasil membuat robot model iklan wanita yang apabila dilihat sekilas, hampir sama persis dengan manusia asli. Bayangkan, sebegitu pintarnya kah manusia?
Tapi, setinggi-tingginya ilmu manusia, hal apapun tidak akan terjadi selama Allah tidak Berkehendak.

Secara logika, dapatkah manusia awam dapat memahami peristiwa isra mi’raj? Rasulullah pergi ke Arsy Allah hanya dalam 1 malam, mengendarai Buraq, yang entah wujudnya seperti apa. Yang pasti kecepatannya luar biasa, di luar batas logika manusia biasa. Sebelum pergi ke langit ketujuh pun, Rasulullah harus bergegas dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Coba, jaman dahulu, kendaraan apa yang paling cepat untuk dikendarai manusia. Hanya unta. Unta. Semalam? Tidak mungkin. Sungguh diluar akal manusia, sekali lagi.

Tapi nyatanya Allah Berkehendak itu Bisa, maka terjadilah….

Nah, dari peristiwa Isra Mi’raj tersebut, dapat kita ambil hikmah, ilmu manusia memang tinggi, tapi Ilmu Allah-lah Yang Tertinggi. Ilmu kita ini hanya setetes dari samudera Ilmu-nya Allah.

Dibandingkan dengan mempertanyakan sesuatu yang harus dijawab dengan logika, ada baiknya kita berkaca pada peristiwa dahulu, jaman Rasulullah, ketika keajaiban dan mukjizat benar-benar nyata tertulis di Al-Quran.

Kalau kita terus berjalan di tempat yang sama, berpijak semakin dalam dan dalam, maka lambat laun kita akan tenggelam dalam pijakan kita itu, lebih baik kita maju, berjalan menuju tempat yang kita tuju.