Sundus Mirrotin's Weblog

life is words, just share it! ^^

Sepeninggal Oma

Hari pertama dalam sejarah kehidupan ayah, idul Adha tanpa omaku. Oma meninggal selasa 2 minggu lalu. Tepat ketika ayah sedang rapat di bekasi, ibu sedang kuliah di kampusnya, kakak dan adik-adikku sedang menuntut ilmu, dan aku yang sedang praktikum. Tidak ada satupun dari keluarga kami yang sempat menengok oma yang kepergiannya sangat sangat sangat tiba-tiba.

Ini kisah yang aku curi dengar dari kakak sepupuku. Ceritanya, pagi hari itu, hari dimana oma sebenarnya sudah ditakdirkan untuk kembali pada-Nya, oma masih beraktivitas seperti biasa di rumah beliau. Oma yang sudah ditinggal opa sejak lamaaa sekali itu masih suka bekerja keras walau umur sudah tua. Tapi wajah oma masih segar loh…. 🙂

Tiba-tiba oma mengeluh sakit dada. Entah, oma memang akhir-akhir ini mengeluh sering pusing, cepat capek, dan lain sebagainya. Dan ketika sakit, oma sangat susah diminta ke rumah sakit untuk check up atau sekedar berobat biasa. Anehnya, oma saat mengeluh sakit dada itu langsung mau diajak ke rumah sakit. Oma, andai aku tahu itulah waktu terakhirmu oma….

Kebetulan, anak oma ada yang masih tinggal di rumah oma, Uwa Dian dan Om Rifky. Mereka meminta tolong ayahku untuk mengantar oma ke rumah sakit. Tapi ayahku sedang rapat, akhirnya ayah meminta tolong yang lain yang mengantar oma. Dapatlah… dan oma pun pergi bersama Uwa Dian, Om Rifky, dan kakak sepupuku, kak Anggi.

Masih biasa. Suasana masih seperti biasa. Sebenarnya aku tak tahu jelas bagaimana alur cerita yang detailnya, yang jelas dokter meminta Oma untuk cek darah. Namun, ketika itu,,,, sedengarku dari cerita kak Anggie, oma yang sedang tertidur di ranjang kamar rumah sakit, tiba-tiba mengorok keras. Keras. Keras sekali, dan bahkan seakan korokannya itu mengeluarkan sesuatu dari kerongkongannya. Oma tidak nampak kesakitan lama. Oma langsung meninggal dengan damai. Sedihnya, kejadian itu sangat tiba-tiba. Hingga belum ada yang sempat membimbing kalimat2 Allah…. tapi semoga oma sendiri pun sudah berdzikir dalam hatinya.. 🙂

Saat itu juga keluarga langsung menghubungi seluruh kerabat dekat. Keluarga oma terbilang keluarga-keluarga yang cukup mapan. Kita ada keturunan bangsawan (kata ayah sih hehe) makanya nama oma pun ada Raden nya. Dari medan sampai lampung pun kita masih ada hubungan saudara. Sungguh kaya sekali keluargaku ini 😀

Sontak semua kaget. Aku baru saja 5 menit pulang dari kampus, langsung shock dan tak bisa berkata apapun ketika mendapat sms dari ibu yang diforward dari ayah bahwa Oma Djuwita Resmi wafat… Dalam benakku langsung terbayang wajah mungil oma yang selalu dan selalu tersenyum. Suara oma sangat pelan, sehingga ketika mengobrol denganku aku harus mendekatkan telingaku dan memperhatikan bibir oma baik-baik. Lucu sekali omaku ini.. Oma,, aku rindu….

Entah aku lebay atau apa,, mungkin memang aku gak begitu dekat dengan oma. Oma sangat dekat dengan abangku. Ultah mereka sama, dan abang suka memberi kado ulangtahun untuk oma seperti al-Quran, ibuku juga pernah memberi oma mukena. :’)

Aku sempat menangis sebentar di rumah. Langsung aku bergegas janjian dengan ibu dan abang yang berangkat bersama dari kampus ITB. Kita janjian di RS Santo Yusup karena kabarnya Oma meninggal di RS. Karena keluarga mendesak untuk mengurus Oma sendiri, akhirnya Oma dibawa pulang malam itu. Sekitar maghrib kami sampai di rumah oma, (dari RS). Adikku yang mahasiswa menyusul sendiri dari kampusnya. Aku sempat tidak mau masuk, karena aku ini orangnya cepet banget nangis. Belum aku melihat kondisi oma, aku udah nangis di luar rumah. Om Rifky memintaku masuk, tapi aku tetap ingin diluar dulu, dengan adik. Ibuku masuk ke dalam, entah ngapain, dan ayah,,,, ayah berangkat langsung dari bekasi menuju bandung, demi oma.. Abang yang menjemput ayah di jalan suci. Suasana nampak begitu gelap, suram, dan penuh tangisan. Kakak sepupuku yang lain (adiknya ka anggi), yang umurnya lebih muda dariku tapi sudah kuliah, sedang menangis tersedu karena ditinggal oma. Maklum, dia tinggal dengan oma sejak dulu. Nampak teman2 kuliahnya datang menjenguk, jauh2 dari polban..

Aku diluar, bertemu dengan mas eka. Kakak sepupuku yang lain, yang seumuran denganku. Kami semua menunggu ayahku. Entah mengapa, semua menunggu ayahku. Setelah ayah datang, oma langsung dimandikan. Sungguh, aku sebenernya pengen ikut mandiin, tapi selain tempatnya penuh, aku gak tega….. Itu oma.. Oma yang suka tersenyum dan membelikan kami chiki-chiki  dan es krim. Oma yang baik,, yang lembut.. Maaf oma, aku kembali menangis…

Aku melihat semua prosesinya. Ayahku tak tampak menangis, tapi raut wajahnya beda. Tak pernah seperti ini. Beda. Kau tau, ayahku memang begitu. Tak mau orang lain tau kesedihannya. Ayah pergi meninggalkan rapat pun, ayah tak bilang bahwa oma meninggal. Ayah…

Semua yang urus ayahku. Mengusap tubuh oma dengan sabun, mengeramas rambut oma, membasuh, membalikkan, mengangkat. Ibu-ibu yang mengkafani oma. Aku ikut andil sedikit disitu. Ibuku pun sibuk mengurusi jenazah oma. Aku baru pertama kali melihat jenazah, tapi oma sama sekali tidak terlihat seperti telah meninggal atau bagaimana. Oma hanya sedang tertidur, hanya saja Oma takkan pernah bangun. Aku pegang kakinya, dingin. dingin sekali. Tak sekalipun kurasakan suhu yang hangat seperti biasa

Oma,, benarkah oma telah pergi??

Aku tak henti menangis. Sampai-sampai aku lupa, dari pulang ngampus tadi aku tak sempat makan nasi, di kampus pun belum, sarapan pun belum. Intinya, sehari itu aku belum makan apapun. Kepalaku terasa berat, mana aku pergi2an bawa motor, masuk anginlah…

Oma telah selesai dikafani, cantiknya… seperti bayi :)) Sungguh, oma seperti hanya sedang tertidur. Kemudian kami menyolatkan oma. Aku ikut, dan ayahku jadi imam. Lagi-lagi ayahku…. Tahukah kamu teman-teman, takbir pertama ayah bergetar sungguh hebat. Aku tak tahan menahan tangis.. Suaranya seperti sedang menangis tapi tidak menangis, aku bisa merasakan itu.

“Allaaaaahu Akbar”

4 takbir kami jalani, dan kami akhiri dengan salam..

Selesailah.

Beberapa ada yang pamit pulang, sebagian yang lain mengisi perut dulu dengan makanan. Bagaimanapun manusia pasti butuh makanan untuk bertahan hidup. Kepalaku sudah pusing berat karena menangis dan belum makan apapun. Aku putuskan makan dulu baru pulang ke rumah untuk bersiap esoknya pemakaman oma.

Esoknya, sebelum mengubur jenazah oma, ada sepatah dua patah kata dulu dari sanak keluarga yang diwakilkan oleh ayahku. Lagi, ayahku mengeluarkan suaranya dengan getaran hebat, menahan tangisnya, dan berusaha tegar didepan khalayak ramai. Mungkin ayah tidak ingin mengiringi kepergian oma dengan tangisan. 🙂

Lagi, ayahku yang sibuk mengubur jenazah oma. Oma punya 6 anak, 2 perempuan, dan 4 laki-laki. Ayah sama sekali tak terlihat menangis. Yang aku tahu, setelah solat jenazah malam itu, ayah pergi ke kamar oma dan menjalankan solat Isya sendiri. Atau solat apa, aku ga tau… Yang jelas, itu lama… dan tidak mau terganggu..

========================================================

Sekarang,, Oma sudah tidak ada. Ayah dengan santai sempat bertanya pada adikku,, “Oma udah ga ada,, sekarang idul Adha nya gak sama Oma.. Usan rindu gak sama oma??” Adikku, usan menjawab simpel, “Iyalah.. kangen”

Ayahku, saat proses pemakaman oma, memintaku untuk mendokumentasikan semuanya. Aku merekamnya, dari sambutan, dan segala macamnya. Lalu, aku memindahkan filenya ke komputer rumah. Ayahku menonton videonya. Nampak wajahnya beda lagi. Tapi tidak menangis. Ayah hanya menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya lagi, seolah berkata “ikhlaskanlah….”

Ayah,, aku harap ayah kuat.. Oma,, aku rindu… sangat rindu mengingat hidung dan bibirku selalu dibilang sangat mirip oma, hehe,, berarti aku cantik dong, soalnya kata aku, oma cantik loh hehehehehe :p

Tetaplah berjuang teman-teman. Berjuang dalam jalan-Nya. Karena maut selalu menghantui kita, entah kapan, dimana, dalam kondisi apa, dan bagaimana caranya. Tidakkan kita ingin meninggal dalam keadaan berjuang dalam jalan Allah. Sungguh itu merupakan kematian yang indah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 6, 2011 by in hikmah.
%d bloggers like this: