Sundus Mirrotin's Weblog

life is words, just share it! ^^

Nasihat Beliau

Hendak bercerita mengenai apa yang terjadi pada saya Selasa lalu. Kira-kira 5 hari yang lalu.

Saya, memang jenis orang yang sulit percaya hasil orang lain. Saya juga, jenis orang yang terlalu keras kepala mempertahankan apa yang saya kepingin. Entah ini baik atau tidak, yang jelas ini sudah sifat saya sejak dahulu. Saya akan lakukan apapun sampai apa yang saya mau tercapai, atau sampai saya dapat menerima jawaban “tidak” untuk keinginan saya.

Nilai salah satu mata kuliah saya adalah D. Ini kali pertama saya mendapat nilai D. Mata kuliahnya pun 3 sks. Selasa itu, saya ke kampus berniat untuk mengurusi masalah beasiswa. Pertama sampai, saya ke jurusan melihat nilai. Tidak. Ini buruk. Harusnya saya tidak usah lihat lebih detail. Mata kuliah 3 sks itu, saya lihat jelas nilai-nilai UTS dan UAS saya. Semuanya kecil dan aah hancur. Saya baru sadar itu. Kedua nilai tersebut 37 dan 37.

Sudah lelah dengan hasil itu, saya coba abaikan. Saya urus saja transkrip nilai, pergilah saya ke dekanat FMIPA. Sekian jam saya dioper ke atas ke bawah, akhirnya saya mendapatkan transkrip itu, IP saya kurang dari 3. IPK saya turun jauh.

Saya hanya bisa beristighfar saat itu, “astaghfirullah, apa yang terjadi dengan saya akhir-akhir ini? Terlalu pemalaskah?”

Tersirat langsung mengenai persyaratan beasiswa saya.

Tiap semester tidak boleh ada IP yang kurang dari 3. Kesempatan kurang dari 3 hanya boleh 1 semester.

Ya, saya sudah bercerita kan mengenai beasiswa Triputra saya? Beasiswa sampai saya lulus? Kesempatan itu kini telah terpakai. Dan saya tidak punya kesempatan lagi. Sisi perfeksionis saya muncul. Saya harus mengusahakan satu mata kuliah agar nilainya naik! Ya, mata kuliah D itu. Saya harus mengusahakan agar nilainya bisa C, seenggaknya IP saya bisa pas 3.

Finally, saya menelpon bapak dosen terkait, meminta bertemu. Besoknya, Rabu, saya bertemu beliau, pukul 9.

Keesokan harinya, tepat pukul setengah 9 saya datang. Dengan penuh harap, saya datang ke kantor beliau. Entah ini jiwa korupsi atau apa. Saya pun tidak tahu. Bisa dibilang iya, saya seakan memaksakan kehendak saya, dan saya tidak mau menerima kenyataan nilai D saya.

Beliau, menanyakan apa masalah saya. Saya menjawab, saya hanya ingin tahu kenapa nilai saya bisa sangat kecil 37. Hanya 37, padahal saat itu Open Book. Apa tidak ada nilai yang lebih baik? Begitu pikir saya. Saat itu saya memang hanya berfikir tentang persyaratan beasiswa saya harus terpenuhi, apapun caranya. Bodohnya.

Beliau mencari kembali kertas ujian UTS dan UAS saya. Ketemu. Diserahkannya lah kertas-kertas tersebut pada saya, periksa ulang. Saya mengamati, harap-harap cemas. Ini saya yang mengerjakannya? Saya nampak bodoh. Ini open book dan saya masih tidak bisa? Saya seakan hanya menyalin apa yang ada dalam buku dan saya tak memahami maksud pertanyaannya.

Setelah yakin, nilai 37 itu memang murni hasil ujian saya, saya terdiam. Hampir menangis. Hilang sudah harapan mendapat nilai C. Jujur, saya memang tidak mengerti apa yang saya pelajari selama ini di mata kuliah ini. Tapi… kenapa harus ketika saya punya tanggungjawab mempertahankan IP? Kenapakah?

Beliau, mungkin sadar mata saya berkaca-kaca. Kemudian beliau menatap saya, sambil berkata “Anda jangan pernah berfikir Bapak menyisihkan Anda, mengorbankan Anda. Berfikir bahwa harus ada korban dari mata kuliah ini, dan itu Anda. Jangan pernah ya berfikir seperti itu. Ini untuk kebaikan Anda. Bapak siap menerima siapapun mahasiswa yang ingin belajar langsung sama Bapak. Apabila ada mata kuliah yang tidak dimengerti tanyakan langsung sama Bapak. Intinya, Bapak tidak pernah menyisihkan Anda di mata kuliah Bapak. Anda percaya kan sama saya?”

Dan Anda tahu saya menjawab apa?

“Hehehe, iya pak..”

Saya hanya jawab itu. Saya tertawa terkekeh sambil menahan tangis. Hehe. Memang saya gampang nangis. Jadinya harus ketawa biar nahan air matanya keluar. Kemudian beliau menyimpan kembali kertas ujian saya. Saya mengambil kesempatan menyeka air mata saya yang hampir jatuh ketika beliau memunggungi saya.

Jujur, dalam hati saya saat itu, saya bergumam. Bodohnya saya. Dosen sebaik ini, sampai saya tidak percayai beliau, sampai saya berburuk sangka terhadap beliau. Saya malu, Bapak. Sangat malu. Bapak guru besar yang sangat hebat. Hanya saya saja yang tidak tahu diri masih saja tidak percaya terhadap Bapak. Terimakasih Pak, ini tamparan sekaligus pelukan nasihat seorang dosen terhadap mahasiswanya.

Saya hela nafas dalam-dalam, lalu berpamitan. Refleks, saya mencium tangan beliau. Entah itu wujud terimakasih saya atau apa, seakan beliau adalah ayah saya sendiri, yang sedang menasihati anaknya atas IP nya yang sedang jatuh.

Kini, saya tidak lagi boleh bergantung terhadap siapapun. Berjuanglah dengan usaha sendiri, berdoalah pada-Nya. Mohonkanlah Ilmu-Nya. Karena semua ini datang hanya dari Allah… Teguran ini, pasti Allah yang Rancang… agar saya segera mengevaluasi diri, dan membangun kembali resolusi baru di semester berikutnya.

Ya Allah, I’m really thankful… Suatu pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Semoga bisa jadi cerita yang bermakna bagi anak cucu saya kelak. He…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 12, 2012 by in hikmah.
%d bloggers like this: