Sundus Mirrotin's Weblog

life is words, just share it! ^^

Abdurrahman Al-Gonzaga: Calon Pastor yang Menjadi Ustadz

Sumber : republika online 1, republika online 2, republika online 3, republika online 4

Ketika menghadapi cobaan berat, Abdurrahman Al Gonzaga dihadapkan pada dua pilihan. Terus bertahan atau menyerah. Rupanya, takdir membawa pria kelahiran Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) itu pada hidayah Islam. Ia pun menjadi mualaf. Namun, setelah itu, ia dihadapkan pada tantangan yang sangat berat sebagai seorang Muslim. Tahun-tahun pertama usai mengucap dua kalimah syahadat, Abdurrahman menghadapi aneka kendala. Tidak mudah menjalani hari-hari, lantaran kesulitan pada berbagai aspek. Begitu pula ketika berniat lebih mendalami Islam. Padahal, ia sangat ingin menjadi Muslim yang sebenarnya. Berbagai kendala dan tantangan itu tidak menggoyahkan imannya. Abdurrahman terus berjuang. Ia menimba ilmu agama walau terkadang harus dicapainya sendiri. Hingga suatu saat, ia sampai pada kesimpulan. Selaku mualaf, ia harus proaktif, tidak bisa hanya menunggu. Itulah kunci suksesnya. Kini, ia aktif membina para mualaf. Abdurrahman mendirikan komunitas mualaf di Yogyakarta, dan rutin mengadakan kegiatan agama. Ia berharap, para mualaf memperoleh pembinaan, perhatian, serta bimbingan, sehingga mereka bisa mempertebal kecintaannya kepada Islam. *** Abdurrahman menginjakkan kaki di Tanah Jawa, tepatnya di Yogyakarta, tahun 1993 silam. Tujuannya hanya satu, yakni menempuh studi di Seminari Tinggi Misionaris Keluarga Kudus, di Jl Kaliurang. ‘’Saya dikirim oleh keluarga dan keuskupan agung Kupang ke seminari untuk dididik khusus menjadi imam atau pastor,’’ paparnya, beberapa waktu lalu. Ia pun tekun belajar agama. Maklum, menjadi pastor adalah dambaan keluarga besarnya, karena ayah serta beberapa kerabatnya, adalah tokoh agama di Kupang. Sehingga ia diharapkan bisa mengikuti jejak langkah mereka pula. Hanya, setelah lima tahun berjalan, Abdurrahman merasa tidak sanggup untuk menjadi pastor. Dirinya belum siap untuk selibat, hidup sederhana, berkaul, dan lainnya. ‘’Sehingga, saya memutuskan untuk keluar dari biara,’’ tutur pria kelahiran tahun 1971 itu. Selanjutnya, ia tinggal di kos-kosan, yakni di Kampung Lelet, di sebelah selatan Condong Catur, lingkungan komunitas Muslim. Bahkan pemilik rumah kosnya juga orang Muslim. ‘’Itu memang kebetulan, awalnya saya tidak berpikir macam-macam apakah harus kos di rumah yang pemiliknya Nasrani.’’ Dan kebetulan tersebut membawanya ‘berkenalan’ lebih dekat dengan Islam. Kampung Lelet membuat Abdurrahman berinteraksi dengan umat Islam. Dia pun mengaku baru mengenal sosok kaum Muslim, kehidupan ibadahnya, dan lain-lain, di sana.

Lama kelamaan, hadir perasaan yang mengganjal. Sebelumnya, ia lebih banyak mendengar cerita dan kisah tentang umat Islam yang berkonotasi negatif. Islam identik dengan kekerasan, suka membawa pedang, dekat dengan kemiskinan, terbelakang, dan sebagainya.

Kenyataannya, ternyata tak seperti itu. Apa yang dilihatnya di kampung Lelet sungguh sangat berbeda. ‘’Orang Islam sangat ramah dan baik, saya merasa akrab berbaur di antara mereka,’’ aku Abdurrahman yang bernama asli Arnold al Gonzaga itu.

Sampai datang bulan suci Ramadhan. Tiada satu warung makan yang buka. Abdurrahman yang masih Nasrani, kesulitan untuk dapat makan siang. Terpaksa ia harus berjalan jauh agar menemukan warung yang buka.

Langkah kaki membawanya ke sebuah kedai makan kecil, di dekat rumah orangtua angkatnya di Condong Catur. Dia pun mampir dan makan di sana.Terdorong rasa penasaran, usia makan, Abdurrahman bertanya pada si pemilik warung. Namanya bu Sarjono, pensiunan pegawai TVRI.

‘’Ibu puasa tidak?’’ tanya dia. Lantas dijawab, ya. Abdurrahman bertanya lagi, ‘’Apakah saat saya makan, ibu terganggu?’’ Bu Sarjono menjawab kembali, ‘’Saya memang puasa, Mas, tetapi sewaktu melayani orang makan, ya tidak masalah.’’

Seketika, jawaban itu mengagetkan Abdurrahman. ‘’Saya terpana, tapi heran. Itu pengalaman luar biasa bagi saya. Bagaimana tidak, ada orang sedang berpuasa, lantas melihat orang makan, tapi dia tidak terganggu. Ini sulit saya pahami,’’ dia menuturkan.

Sepanjang perjalanan pulang ke kos, dia masih terngiang kata-kata Bu Sarjono. Bahkan hingga menjalani ibadah ke biara, baik pagi, siang, petang, maupun malam, apa yang didengarnya itu tetap membekas. Ditambah dengan pengalamannya bersama komunitas Muslim di Kampung Lelet.

Abdurrahman merasa tambah dekat dengan Islam. Setiap upaya untuk mencoba mengabaikan rasa itu, termasuk dengan aktif di kegiatan gereja, tidak juga menolong. ‘’Akhirnya, saya berkesimpulan, dalam Islam juga ada cinta kasih.’’

Awal  2000, rasa gelisahnya semakin kental. Ia tak kusuk lagi beribadah di gereja. Kepada orangtua angkatnya yang juga tokoh gereja, ia lantas ungkapkan uneg-unegnya, namun mendapat reaksi keras.

Ia diminta tidak lagi berbaur dengan keluarga Sarjono, atau umat Islam lainnya. Ia tidak boleh keluar rumah, dan memperbanyak meditasi. Abdurrahman mengaku tidak bisa membohongi kata hatinya, sehingga ia pergi dari rumah orangtua angkatnya, dan pindah kos.

Sejumlah tokoh agama Islam ia  sambangi untuk berkonsultasi. Temannya yang sudah mualaf pernah membawanya kepada Ustaz Jatnika. Lantas, ia dipertemukan dengan Kakanwil Depag DIY, Sugiyono. Sejak itu, dia kerap ikut ke masjid, melihat umat Muslim yang sedang shalat.

‘’Saya jadi ingin shalat juga. Maka, tanggal 1 April 2000, saya minta disyahadatkan,’’ tegas Abdurrahman. Pengucapan dua kalimat syahadat berlangsung di Masjid Kakanwil Depag. ‘’Hati saya plong’’.

Di tengah bahagianya, ujian berat muncul. Dia tidak mungkin kembali ke gereja, rumah orangtua angkatnya, terlebih keluarganya di Kupang. Untuk sementara waktu, ia tinggal di rumah temannya, dan bekerja sebagai sales dan bisnis jaringan.

Tidak mudah menjadi mualaf. Hal itu dirasakannya pada lima tahun pertama. Selama itu, Abdurrahman mengaku belum menemukan model pembinaan seperti diharapkan. Padahal, sebelumnya ia membayangkan, pembinaan bagi mualaf telah terprogram, punya tahapan jelas.

Beberapa lembaga dan majelis taklim yang didatangi, ternyata belum sesuai harapan. ‘’Kita ingin dibimbing untuk belajar ibadah dasar, mengaji Alquran, mengkaji maknanya, dan sebagainya, intinya pembinaan yang terarah, namun itu belum saya temukan,’’ ucapnya.

Dia sempat putus asa dengan kondisi ini. Akan tetapi, tekadnya telah bulat, tantangan tersebut tidak sampai melemahkan semangatnya berislam. Maka, Abdurrahman meniatkan belajar mandiri, bertanya pada teman, atau dari ustaz ke ustaz.

Alhamdulillah, Allah SWT membukakan jalan. Dia dipertemukan dengan orang-orang yang bisa memberikan ilmu serta menjadi panutan. ‘’Buat saya, Islam ya seperti ini. Allah tunjukkan beberapa alternatif, tinggal saya kemudian memilih.’

Ahad pagi, pelataran belakang kediaman keluarga Bambang Triatmodjo di Kavling Madukismo no 28 Seturan, Condong Catur, Yogyakarta, tampak semarak. Ada belasan orang di sana. Mereka merupakan jamaah Majelis Taklim ar Rahmah.

Satu kesamaan di antara para anggotanya, baik Muslim dan Muslimah, yakni sama-sama mualaf. Inilah majelis taklim binaan Abdurrahman Al Gonzaga, yang salah satu programnya membina para mualaf. Pengajian rutin dilakukan setiap Ahad.

Lokasi pengajian selalu berpindah tempat, biasanya digelar di kediaman para donatur. ‘’Sebab, kami belum punya tempat atau kantor permanen, jadi masih pindah-pindah,’’ papar Abdurrahman.

Meurut dia,  anggota majelis taklimnya mencakup sekitar 30 KK, atau 70-an jiwa. Meski begitu, yang aktif mengikuti pengajian sebanyak 20-30 jamaah. Materi pengajian disusun sedemikian rupa, mulai dari pelajaran shalat atau ibadah dasar, membaca Alquran, diskusi, dan lainnya.

Seperti yang terlihat saat itu, mereka serius menyimak tausiyah dari seorang guru agama. ‘’Pengajian ini sudah terbentuk sejak dua tahun lalu. Alhamdulillah terus berkembang,’’ paparnya.

Hadirnya majelis taklim itu berangkat dari pengalaman pribadi Abdurrahman. Dia menginginkan agar para mualaf memperoleh pembinaan yang intensif. Dirinya telah merasakan begitu berat perjuangan pada masa-masa awal menjadi mualaf.

Abdurrahman mengisahkan, bahwa bila hanya sekadar teknis ibadah, semisal shalat, wudhu, dan sebagainya, tidak terlampau sulit dipelajari. Tetapi ketika harus melakukan secara istikamah, misalnya, shalat lima waktu, ternyata sungguh perjuangan berat.

Subuh dan Ashar diakui paling sulit untuk rutin ditunaikan. Padahal, biasanya dia bisa bangun pagi. Tapi, ‘’Ketika sudah masuk Islam, justru susah sekali.’’ Akhirnya, shalat lima waktunya ‘bolong-bolong’. Ayah dari dua putri ini tak ragu menyebut belum menunaikan shalat wajib dengan baik.

Dari situlah, dia mulai merasakan hidupnya tidak terarah, mudah berpikiran negatif, bahkan kerap putus asa. Sampai dia bertemu rekan sesama mualaf, Ibu Wiwik namanya, pada tahun 2005. Ia menanyakan kabar Abdurrahman, yang segera dijawab bahwa hidupnya kian susah setelah masuk Islam. Tak dinyana, ibu Wiwik bertanya tentang shalat lima waktunya.

‘’Ya, masih bolong-bolong,’’ jawab dia. Maka sekonyong-konyong, Bu Wiwik berkata, ‘’Ya wajar hidupmu susah, kewajibanmu terhadap Allah SWT saja belum terpenuhi kok kamu minta hakmu.’’

Kata-kata itu menyentuh bathinnya yang terdalam.  ‘’Sejak itu, saya memaksakan diri untuk selalu shalat lima waktu. Hingga sekarang,’’ tegas Abdurrahman.

Ibadah lain yang juga dirasakan berat yakni puasa. Sebab, ini adalah hal yang baru baginya. Memang, dalam agama Katolik ada puasa pula, tapi puasa yang dilakoni hanya mengurangi porsi makan. Sedangkan di Islam, tidak boleh makan sama sekali.

Maka, selama enam tahun pertama, dia tidak bisa puasa penuh.  Dan hidayah kembali datang. Pada suatu malam takbiran, di kampung istrinya diadakan lomba takbir keliling. Menyaksikan itu, tanpa terasa ia menangis.

‘’Karena saya berpikir, mereka bertakbir untuk merayakan kemenangan atas hawa nafsu dan puasa sebulan penuh, tapi saya rayakan apa?’’ tanya Abdurrahman dalam hati. ‘Sentuhan’ itu membuatnya membulatkan niat, untuk bisa puasa penuh pada Ramadhan berikutnya.

Dikatakan, yang mengalami problema serupa ternyata bukan hanya dia sendiri, melainkan rekan sesama mualag  yang lain. Hidup jadi susah, ekonomi sulit, susah bergaul, dan banyak lagi. Namun apabila dirunut lagi, sambungnya, masalah berawal dari ibadah shalat yang belum benar.

‘’Semua itu harus dibenahi. Belajar dari sana, saya pun memacu diri serta terus memotivasi teman-teman lain untuk beribadah dengan sebenarnya,’’ tutur dia lagi.

Kepada dirinya sendiri, keluarga, dan teman mualaf, Abdurrahman selalu menyampaikan bahwa mereka dipanggil masuk Islam bukan sekadar memeluk agama ini, tapi harus berjuang memantapkan iman Islam, dan itu harus dimulai dari diri sendiri.

‘’Masuk Islam bukan suatu kebetulan, tapi hidayah dan rahmat Allah SWT. Kalau cara pandang kita seperti itu, insya Allah membuat kita kuat ketika menghadapi kesulitan dan aneka tantangan,’’ tuturnya berpesan.

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Yusuf Assidiq
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 13, 2012 by in hikmah.
%d bloggers like this: