Sundus Mirrotin's Weblog

life is words, just share it! ^^

Shaf Shalat

Lagi nyempetin online nih memperhatikan perkembangan proker online kami 🙂

Dan kebetulan nemu artikel yang lumayan bagus. Sekaligus juga merupakan jawaban atas pertanyaan saya selama ini. Ketika saya shalat berjama’ah dengan seorang teman wanita, kebetulan dia selalu menjadi imam (faktor umur sih :p) dan sebelum shalat, dia selalu menempelkan ujung jari kelingking kakinya dengan kelingking kaki saya. Dan bahunya dengan bahu saya (walau bahu saya lebih pendek, karena dia tinggi -__-). Ingin bertanya sebenarnya kenapa? Saya pikir merapatkan shaf itu ya tempelin aja sisi badan, ternyata ada yang ‘khususnya’ 🙂

Sangat banyak di antara saudara-saudara kita yang masih belum merapatkan shaf dengan baik di dalam ṣālat, padahal perkara ini merupakan salah satu petunjuk dan syari’at yang diajarkan oleh Nabi Muhammad allallāhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang terdapat di dalam sebuah hadits ahīh, dari ṣaḥābat Anas bin Malikraiyallāhu ‘anhu, Rasulullāh allallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaftermasuk kesempurnaan sholat (berjama’ah pent.)”.  (H.R Muslim).

Maka, agar ṣālat berjama’ah kita menjadi sempurna, hendaknya kita benar-benar mengamalkan ḥadīṡ Nabi yang mulia di atas, bukan semata-mata dengan menjawab  “sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami ta’at)”. Akan tetapi, hendaknya benar-benar kita lakukan dan kita amalkan.

Meluruskan dan merapatkan shaf sudah dipraktikkan dengan baik oleh para ṣaḥābat yang mereka ini adalah murid-murid Nabi Muammad allallāhu ‘alaihi wa sallam. Salah satu di antara mereka, yaitu Anas bin Malik raiyallāhu ‘anhu berkata:

لَقَدْ رَأَيْتُ أَحَدَنَا يَلْزِقُ مَنْكَبَهُ بِمَنْكَبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بَقَدَمِهِ

“Dulu, salah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu teman di sampingnya serta kakinya dengan kakitemannya. (H.R Bukhari)

Dalam riwayat yang lain di sebutkan, dari ṣaḥābat Nu’man bin Basyīr raiyallāhu ‘anhu berkata (yang artinya),

Saya melihat seorang laki-laki menempelkan bahunya ke bahusaudaranya, dan menempelkan lututnya ke lutut saudaranya, dan menempelkan mata kakinya dengan mata kaki saudaranya”. (H.R Abu Dawud)

Demikianlah para ṣaḥābat mempraktekkan hadits Nabi allallāhu ‘alaihi wa sallam.Mereka tidak merasa risih ketika kaki saudaranya menempel dengan kakinya, dan bahu saudaranya menempel dengan bahunya ketika sedang ṣālat berjama’ah. Bahkan, mereka bersemangat dalam merapatkan shaf, karena hal tersebut mempunyai banyak keutamaan.

Sebenarnya kalo boleh jujur saya membaca ayat ini mengandung 2 makna, ada makna yang tersirat, ada yang tersurat. Yang tersuratnya ya itu tadi, benar-benar makna denotasinya. Bagaimana praktek secara langsung mengenai barisan shaf ketika shalat. Namun ayat tersuratnya, ini mengenai barisan ummat, bagaimana merapatkan shaf ummat. Tapi, ngga sekarang deh saya curahkan pemikirannya, saya mau siap-siap berangkat ke kampus. 🙂

Wallahu alam…

sumber 1, 2.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 19, 2012 by in hikmah, Religy.
%d bloggers like this: