Sundus Mirrotin's Weblog

life is words, just share it! ^^

Habibie-Ainun : Tumbuh dan Perginya Cinta, Hanya Allah yang Berkehendak

20 12 2012

Saya dan beberapa kawan kampus sepakat untuk menonton film Indonesia inspiratif lainnya setelah kemarin film 5 cm sudah puas saya nikmati. Setelah 5 cm kemarin berhasil membuat saya takjub dengan Maha Karya Allah di bumi pertiwi ini yang luar biasa, kali ini saya sukses dibuat menangis sesenggukan dengan bukti nyata indahnya rasa saling memahami dan melengkapi. Ialah film Habibie-Ainun yang berhasil membuat saya iri, dengan kisah hidup mereka yang romantis dan inspiratif.

sekitar pukul 13.00 WIB di ruang 205

Syaina mengajak untuk nonton film Habibie-Ainun, beberapa kawan yang ada di kelas itu menyepakati, yaitu Syaina, Nilam, Dina, Trisa, Tia, dan saya sendiri.

13.00-15.00 WIB

Saya dan kawan-kawan masih beraktivitas seperti biasa di kampus : kuliah dan mengerjakan tugas.

16.00-17.00 WIB

Setelah menunggu Sela dan Tia keluar ruang presentasi, saya mengajak mereka untuk makan bersama. Diputuskanlah, Rumah Makan Ramen Ranjang 69 menjadi sasaran kami. Kebetulan, akang senior kami yang punya, jadi seenggaknya rasa penasaran kami dari dulu tentang rasa ramen ranjang 69 buatan senior kami itu harus dipenuhi sore ini juga.

17.30- 18.30 WIB

Saya pulang ke kosan, mampir ke kamar Tika untuk sekedar mampir, heu. Ya berhubung kalo mau ke kamar saya harus ke kamar tika, ya mampir aja. Hehe. Kebetulan Tika katanya mau liburan ke Jogja deket-deket ini. Yaaa sharing dulu lah..

18.30-19.15 WIB

Saya kembali ke kosan saya, shalat maghrib, setrika jemuran, lalu caw ke rumah makan pecel lele suroboyo. Janjian dengan kawan-kawan yang mau nonton film Habibie-Ainun tadi. Tiba-tiba sekeluarnya saya dari kosan hujan sangaaaat deras. -__- Semua teman kecuali saya dan Tia sudah ada di Suroboyo, lalu kami berdua janjian ketemu depan gang Alfamart untuk bareng-bareng ke Suroboyo lalu jalan sedikit ke 21 Jatos. Saya, dengan payung “egois” alias payung yang hanya muat satu orang saya, dengan kerudung paris hitam saya, kaos kunjungan industri BATAN saya, rok biru saya dan didalamnya ada legging coklat tua saya serta sendal karet saya berjuang bersama Tia melawan derasnya hujan Jatinangor yang berhamburan dari segala penjuru mata angin. Saya sampai angkat rok saya selutut, untung pake legging. Dan terpaksa kaos kaki ngga pake saat itu -_- Bertemu lah kami semua di Suroboyo, dan bersama-sama menerjang badai untuk segera ke 21 Jatos. Semua perjuangan demi meleburkan rasa penasaran menonton film itu!

19.25-19.30 WIB

Semua masuk dulu ke toilet. Bersih-bersih dari lumpur debu dan noda lainnya. Sialnya saja, Jatos memang belum bisa profesional. Pintu WC nya ga ada kuncinya lah, tisunya habis lah, ga ada airnya lah, alhasil mesti 2 kali saya ke kamar mandi untuk cari WC yang pas diantara jajaran WC lainnya.

19.30-21.30 WIB

Kami menonton film.

Filmnya seru. Bukan seru karena action.

Tapi seru karena, ini loh, masih ada loh orang seperti ini, yang sudah dari sananya cerdas, tapi masih mau berbakti untuk negeri dulu, semewah apapun Jerman.

Ini loh, wanita yang perkasa, yang kuat backing up suaminya untuk tetap bertahan di pemerintahan yang kotor.

Ini loh, kesuksesan itu adalah buah, buah dari kerja keras dan pantang menyerah. Selalu berfikir positif dan selalu ingin bawa perubahan yang lebih baik.

Ini loh, hidup dengan kesederhanaan itu, hidup dalam bahagia yang sangat sederhana itu. Tetap menyuguhkan senyum kepada pasangan, semenderita apapun kita.

Ini loh, pasangan yang saling melengkapi itu. Yang walau dalam keadaan sakit yang teramat parah, masih memikirkan bagaimana obat suamiku, atau, bagaimana istriku disana?

Mereka mungkin memang takdir Allah yang indah. Gula jawa yang akhirnya menjadi gula pasir. Skenario Allah itu indah sekali kawan, alangkah lebih indah bila kita mampu mensyukurinya.

Bagian paling sedih, adalah ketika ruang rumah sakit di Jerman itu menceritakan semuanya. Tentang segala hal, curahan hati suami kepada istrinya, contoh ayah kepada anak-anaknya, bukti cinta istri pada suaminya…

Saat Habibie mengucapkan Selamat Ulang Tahun Pernikahan kita yang ke 48… pada Ainun yang tergeletak tak berdaya di atas ranjang pasien. Ia dokter, tapi dokter sehebat apapun tak akan mampu menyaingi Iradahnya Allah, kehendaknya Allah akan kanker ovarium yang operasi sembilan kali pun tidak mempan. Ainun hanya tertidur dengan tasbih di genggaman jemarinya.

Lalu Habibie terus mencium keningnya, disaksikan oleh kedua anaknya.

Tidak sampai hati saya menguraikan kembali kisahnya, cukup kalian yang menontonnya saja. Mungkin Bapak Habibie sekarang sedang tersenyum manis mengenang gula pasirnya itu, kekasihnya yang ia cintai hingga sekarang..

Sungguh, berat menjadi Habibie dan Ainun itu, tapi Allah benar-benar menyiapkan skenario yang indah untuk ini…

Semoga kalian dipertemukan kembali dalam alam kekal yang sebenarnya 🙂

Dan saya kepikiran untuk masukin wajah saya yang sepet abis nangis ini sesampainya saya di kosan. (biarin dibilang narsis juga, suruh siapa baca blog ini)

habibie-ainun

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 20, 2012 by in hikmah, resensi.
%d bloggers like this: