Sundus Mirrotin's Weblog

life is words, just share it! ^^

Wanita dan Beberapa Kisahnya

Miris. Padahal daerah ini daerah kampung, bukan perkotaan metropolitan seperti lokasi kebanyakan kasus MBA terjadi.

Sudah dua kali dengan kali ini MBA ini terjadi, apa ini sudah jadi hal lumrah di Indonesia?

Tidak hanya lingkungan sendiri, tapi juga mendengar cerita teman, dari Cianjur, dari Lampung, di sekitar kampus malahan, sudah sering ada kisah MBA. Na’udzubillahi min dzalik. Mau jadi apa ya manusia-manusia seperti ini? Ya Allah semoga ini tidak pernah berbalik terjadi pada saya

1. Kisah tetangga terdekat

Ini kisah sudah lama. Mungkin ketika saya masih sekitar SMP-an. Ya, tetangga dekat rumah saya, masih SMA kala itu. Secara paras, dia memang cantik, putih, molek, pakaiannya memang agak terbuka. Dari luar memang tidak terlalu liar, tapi siapa coba yang tahu dalamnya? Tau tau masa SMAnya dihabiskan dengan “berzina” dengan seorang yang belum muhrimnya sama sekali. Sudah kepalang berisi, barulah dinikahkan. Entah mungkin landasan menikah saat itu hanya karena takut hukum, takut sanksi moral. Sudah terlanjur berbadan dua makanya nikah. Sangat jauh kan dari tujuan utama pernikahan : beribadah kepada Allah, membangun mahligai rumah tangga yang madani, sejahtera.

Kala itu rumah saya masih dijadikan semacam tempat produksi konveksi tas. Ya, walau kecil tapi setidaknya bisa menampung sekitar 5 alat jahit. Pekerja yang berada di rumah kami ini sering memberi informasi, rumah sebelah jam 11 masih saja berisik. Tahunya, mereka pacaran. Pacaran mesra sekali. Saya ngga ngerti pacaran mesra itu seperti apa, yang saya tahu cuma satu hal, pacaran itu mendekati zina.

Ternyata, berawal dari seringnya berpacaran di malam hari bahkan siang hari. Tanpa pengawasan orangtua, selalu berpakaian terbuka juga. Paha dijual kemana-mana. Jebol-lah harga diri wanita, dan masa depannya.

Kini anak itu sudah besar, tapi saya tidak mengikuti perkembangannya karena saya memang jarang di rumah, tapi yang pasti rumah sebelah sudah tidak lagi ditinggali mereka.

2. Kisah dari teman di Cianjur.

Mungkin informasi yang didapat tentang cerita ini memang kurang sekali, tapi cukuplah menggambarkan beberapa poin penting secara umum bahwa jaman ini sudah edan! Teman saya bercerita mengenai sepupunya. Sepupunya cantik katanya, dan dia sudah memiliki pacar kala itu (yang sekarang menjadi suami kilatnya). Suatu hari pacar teman saya ini disuguhi video mesum oleh teman-teman lelaki di kampusnya (beda kampus dengan saya). Dengan niat awal mungkin bukan menonton video mesum itu, tapi hanya karena disuguhi, pacar teman saya ini agak heran karena rasanya dia kenal dengan wajah orang yang ada di video tersebut.

Kemudian ditanyakanlah pada teman saya, -informan cerita ini-, mengenai wajahnya, rasanya kenal, masih satu keluarga. Lalu, dengan rasa penasaran, teman saya ini bertanya pada ayahnya, ini kok seperti wajahnya sepupunya?

Dan benar, memang sepupunya.

Mungkin untuk menghindari gosip yang salah, keluarga mereka langsung mengadakan semacam pertemuan keluarga. Lalu akhirnya dengan sangat kilat dinikahkanlah mereka. (Saya agak lupa, tapi sepertinya…) sang wanita sudah jebol. Hiii miris ya Allah.

Yang paling lebih gila lagi, mereka berusaha untuk menggugurkan kandungan yang merupakan hasil zina mereka. Dan pengguguran itu tidak berhasil. Lalu kalian tahu apa yang terjadi? Sampai sekarang anaknya tidak begitu normal (maaf), belum bisa berbicara (walau sekedar terbata aaa.. bababa..) padahal usianya sudah menginjak 2 tahun.

Na’udzubillah.

3. Kisah dari teman di Lampung.

Ini cerita baru saya dapat kemarin-kemarin. Dengar-dengar dari informannya yang merupakan teman selingkungan rumahnya langsung, kejebolan ini berawal dari pacaran. Ya, apa sih sebenarnya yang baik dari berpacaran? Belum pernah saya menemukannya, selama masih ada efek negatifnya. (Simpan kalimat ini untuk di kesimpulan).

Mereka berpacaran sudah lama. Kemudian si cowok berkuliah di salah satu universitas di Jogja, dan si cewek masih kuliah di Lampung. Entah karena setan yang mana, yang pasti setan hawa nafsu, mereka berzina ketika sedang berlibur bersama di sebuah kota di Pulau Jawa. Si cewek, pergi berlibur tanpa memberitahu orangtua kemana, bersama siapa dan akan ngapain aja. Miris. Entah nafsu seperti apa yang menyelimuti, yang pasti disanalah mereka berzina, dengan pikiran pendek dan tujuan ngga jelas.

Sekembalinya ke kampung halaman ceweknya, badan nggak bisa bohong. Perut semakin membesar, menikahlah mereka dengan alasan “nanti ngga tau siapa bapaknya”. Hhh alasan murahan, alasan duniawi. Karena tidak ada persiapan apapun, ya begitulah rumah tangganya, tidak ada semangat bersama membangun kehidupan yang baik, menabung agar bisa membangun mahligai rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Si wanita sampai memutuskan kuliahnya demi mengurus anak. Segala fasilitas di rumah tangganya keluarga wanita ini yang menanggung. Mungkin karena memang lebih mampu.

Tapi memang dasar sudah bejat mungkin kelakuan suaminya, karena katanya sih laki-laki ini tampangnya bagus, di tempat kuliahnya, dia berselingkuh/berpacaran lagi dengan wanita lain. Wanita selingkuhannya ini ngga tau kalo dia sudah menjadi suami orang, bapaknya seorang anak. Begitu si istri tau, yasudah bisa anda tebak, cerailah mereka.

Tidak ada yang lebih mending, entah seperti apa nanti garis takdir mereka di akhirat sana…

4. Kisah tetangga agak jauh.

Nah, yang ini kisah baru, dan pada dasarnya saya juga jijik ngebayanginnya. Karena dia masih kecil. Bisa anda bayangkan, kelas satu SMA sudah melahirkan seorang anak. Entah bagaimana rasanya orangtuanya, pasti sangat terpukul, sangat malu.

Tepatnya hari Minggu, di sekitar rumah saya selalu ada pasar kaget di babakan jengkol (nama tempat, agak ke gunung, karena rumah saya memang di kaki gunung). Saya dan adik ingin jalan-jalan, dan secara otomatis pasti melewati rumahnya si yang bersangkutan. Sepi sih saat itu, ngga ada apa-apa. Begitu pula ketika saya baru pulang dari pasar kaget melewati rumah “yang bersangkutan”. Sepi kok, ngga ada apa-apa.

Lalu sekitar jam 11an, datang mobil satu persatu menuju rumah “yang bersangkutan”. Ibu saya heran, takutnya ada bewara masjid yang kami ngga tau. Soalnya orang-orang datang dengan menggunakan batik, dan baju rapi lainnya.

Singkat cerita, tanya sana sini, ternyata si “yang bersangkutan” kelas satu SMA itu menikah. Saya pikir, “Wah ini anak baru kelas berapa? Cepet banget nikahnya?” Hal yang paling mengagetkan, si “yang bersangkutan” menikah setelah seminggu yang lalu melahirkan. Lebih kaget lah saya.

Dia, satu SMA. Kalo mengandungnya 9 bulan, artinya kelas 3 SMP sudah hamil, na’udzubillah

Malu saya, sebagai warga disini.

Tanya sana sini, ternyata pria yang sekarang menjadi suami kilatnya masih pemuda sekitaran kampung sini juga. Artinya, ini anak SMP kerjaannya apa? Sudah sampai punya anak segala.

Seingat saya, dia itu anaknya tinggi. Tinggi banget, saya aja yang udah kuliah kalah jauh lah tingginya. Dia bisa sampe 170 cm lebih tingginya. Dan yang paling saya inget dia selalu pakai hotpants. Pendek. Pendek sekali. Udah kayak kolor aja. Dan kecil dia selalu berpakaian seperti itu, dan sekarang?

Pada dasarnya mungkin kalian sudah tahu apa yang mau saya simpulkan.

  1. Pacaran itu diharamkan bukan dengan alasan murahan. Ini sudah menyangkut hidup bahkan mati. Sudah menyangkut masalah dunia dan akhirat. Kesampingkanlah sanksi dunia, karena banyak sekali orang yang sudah nggak tahu malu di dunia ini. Yang sudah biasa berzina dengan yang bukan muhrim. Nah sanksi akhirat, siapa yang kuat? Ini selamanya loh, selamanya, ngga terbatas, infinite~
  2. Berpakaian yang seharusnya. Yang seharusnya yang seperti apa? Yang nggak mengundang. Yang nggak terbuka, yang tertutup. Suatu saat bilamana hal negatif seperti kisah di atas terjadi (na’udzubillah), penyesalan hanyalah penyesalan. Nggak bisa ngehapus masa lalu, ngga bisa ngerubah garis hidup yang akan dibacain nanti di akhirat. Hampir semua kisah disini berawal dari pacaran, dan berpakaian yang terbuka.
  3. Peran orangtua. Sangat penting, mungkin kita semua hampir tidak menyadarinya. Anak muda jaman sekarang inginnya semua bebas kemauan saya. Padahal peran orangtua penting sekali. Walau nanti masing-masing manusia di hisab masing-masing, tapi tentu orangtua turut andil dalam menanamkan pemahaman awal pada anak-anaknya. Beberapa kisah disini pun dikarenakan orangtua tidak “menjaga” anaknya, dalam hal bergaul dengan lawan jenis, menanamkan tameng iman, atau bahkan memperhatikan setidaknya pakaian yang digunakan si anak.
  4. Dan masih banyak lagi. Bila kamu bisa share, it would be really nice…

Kenapa saya menulis ini? Karena saya wanita, agak miris dan ngilu juga mendengar ceritanya. Mohon untuk tidak berfokus pada siapa pelaku dan orang-orang disekitarnya, tapi fokuslah pada hikmah apa yang harus segera dipetik dari cerita-cerita nyata ini agar tidak terjadi pada diri kita? Dan mohon maaf bila saya banyak salah kata dalam tulisan ini, semoga banyak hikmah yang bisa diambil,

Jazakumullah Khairan Katsira…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 7, 2013 by in hikmah, lifestyle, tulisan.
%d bloggers like this: