Sundus Mirrotin's Weblog

life is words, just share it! ^^

“Tiung weh Lebar, Ibadah mah Tara!!”

Kejadian ini saya alami beberapa hari yang lalu, ketika saya baru pulang dari kampus untuk mengurusi beberapa surat dan keperluan lainnya. Saya pulang menaiki angkot coklat, yang datang dari arah Cikuda Jatinangor, turun di terminal Cileunyi. Seperti biasa, turun angkot coklat saya langsung disambit, eh disambut angkot Cicadas Cileunyi yang berwarna hijau. Supir tembaknya saat itu berusaha menuh-menuhin penumpang, supaya sekalinya jalan langsung banyak pemasukan anggaran.

Saya naik di angkot itu ketika angkotnya baru diisiin kalo tidak salah 3 orang saja. Jadi, ya cukup lumayan lama sih bisa dibilang saya menunggu angkot ini tancap gas. Otomatis saya tahu kan bagaimana cerita yang ada di angkot itu? Hehe.

Jok angkotnya kotor, ada tapakan kaki kotor. Sepertinya sih mamang-mamang angkot ini baru menginjakkan kakinya yang kotor disana. Yang asalnya saya cari spot paling pojok supaya saya bisa tidur di jalan, nggak jadi. Karena pas banget jejak kaki itu ada di sudut-sudut angkot. Menyedihkan.

Sebenernya saya bawa tisu. Saya bisa aja ngelap kotorannya, tapiii saya pikir-pikir, nggak ah, kok saya kaya keliatan niat bangeeet gitu mau duduk di pojok sana. Yasudah akhirnya saya duduk di tepi kanan tengah. Seperti biasa juga, cari yang dekat celah angin.

Berselang agak lama juga, maka satu persatu penumpang datang. Ibu-ibu kebanyakan, ngga ada lelakinya (baru ngeuh saya sekarang heu). Ada ibu-ibu yang datang menduduki spot keinginan saya sebelumnya. Naas, ibu tersebut sepertinya belum tahu ada jejak kaki disana, dan langsung duduk. Kasihaan, saya udah mau ngeluarin tisu dari tas saya. Tapi karena gerakan duduk si ibu lebih cepat dari pergerakan tangan saya, alhasil yasudah didudukilah jok tersebut. Maaf ya bu… 😦

Lalu datanglah ibu-ibu nyentrik, ditemani temannya yang seorang ibu-ibu juga tapi ngga begitu nyentrik. Ibu tersebut datang yang “terakhir”. Duduk di tepi kiri paling dekat pintu keluar.

Setelah ibu tersebut duduk disana, ibu itu dengan santainya memiringkan arah badannya sehingga duduk menyerong. Otomatis satu orang ibu nyentrik yang porsinya besar itu menghabiskan porsi dua orang penumpang yang sebenarnya. Lihat kan ada tempat duduk kecil di paling dekat pintu keluar?

Photo1687

Ada seorang pegawai datang, naik angkot tersebut. Dengan wajahnya yang terlihat polos (malah awalnya saya kira dia masih SMP, tapi setelah lihat seragam karyawan…  -__-) pegawai gadis itu naik ke angkot yang supirnya sudah ganti ke supir yang sebenarnya. Sebenarnya sih gadis itu bisa masuk, di kursi kecil terdekat pintu keluar itu. Tapi….

Supir angkot, “Neng, hayu neng caheum caheum”

Gadis itu naik.

Supir angkot, “Bu, punten geser sakedik tiasa bu, si eneng bade calik”, mengarahkan tangannya, mengisyaratkan agar kaki ibu nyentrik tersebut ngga nyerong, tapi lurus ke arah tempat duduk tepi kanan, biar si gadis pegawai bisa duduk di kursi paling terluar.

Si ibu nyentrik itu malah menimpali dengan sewot, “di dalem aja masih cukup kok!”.

Maaf bu, tapi beneran imajinasi saya sewaktu melihat wajah dan setelan ibu langsung membayangkan anjing buldog di kartun Tom & Jerry. Ibu serem banget mukanya. Dengan lipstik merah mengkilat, bedak tebal, alis yang diukir, kacamata emas, kerudung hitam langsung yang dipeniti belakangnya sehingga nampak ketat di kepala, jaket kulit ibu yang saya pikir itu bagus dan mahal, legging hitam ibu. Semuanya berkumpul menjadi imajinasi yang seram!

Ibu nyentrik itu malah menyuruh si gadis pegawai trus masuk ke dalam angkot dan duduk di sebelah kanannya. Yaampun, itu beneran ngga ada space loh. Tapi gadis pegawai itu masih senyum aja takut ngerepotin penumpang lain.

Supir angkotnya kesel, “bu, digeser sakedik atuh bu, eta si eneng teu tiasa calik!” nadanya agak dihentak.

Ibu nyentrik itu masih tetap setia dengan wajah seramnya. Ibu di pojok kiri saya sampe bilang sama ibu nyentrik itu, “bu digeser atuh, kasian si eneng ngga dapet tempat duduk”.

Lagi-lagi, ibu nyentrik itu diam, malah semakin mem-PW-kan posisinya yang LEGA itu. Aslinya saat itu pengen saya remek-remeeen ibunyaaaa!

Saya pun sampai nanya KERAS-KERAS sama gadis pegawainya, (waktu itu saya masih ngira dia anak SMP, maaf ya teteh -_-),, “DEK, BISA DUDUK NGGAK?” Sengaja KERAS biar TERDENGAR oleh si ibu nyentrik.

Teteh itu jawab “bisa kok :)” tapi sambil posisi pantatnya semakin turun ke bawah… Sedih deh,,,,

Tak berselang lama, si gadis pegawai turun lebih cepat dari kami semua. Entah karena tujuannya memang sedekat itu atau karena ia ngga tahan ngga dapat tempat duduk.

Sesampainya di cibiru, FINALLY IBU-IBU NYENTRIK ITU TURUN JUGA.

Mungkin supir angkotnya juga kesel kali yah, setelah ibu nyentrik dan temannya itu bayar ongkos dan sedikit berlalu, supir angkot itu langsung nyeletuk,

“Tiung weh lebar, ibadah mah tara!!”

Kaget sekaligus pengen nahan ketawa juga saya. Sekesel itu ternyata loh supir angkot ini. Dari tadi diem ternyata ngedumel di dalem hati sampe ibu itu turun. Sampe nyeritain ke penumpang yang baru naik di depan, samping supir angkot.

*          *          *

Yang saya bingung, ternyata begitu ya pendapat orang umum tentang seorang wanita yang berkerudung? Sepertinya sudah sedikit bergeser maknanya. Tentunya ini akibat kelakuan negatif dari wanita ‘berkerudung’ yang ngga bertanggungjawab.

Memang, berkerudung itu wajib, namun, menjilbabi akhlak juga hal yang wajib bagi wanita bahkan seluruh umat manusia. Nggak sinkron kan kalo luar bagus dalemnya ngga? Aqidah menaati perintah berjilbab ditaati (bukan leggingnya ya hmm), tapi akhlak berbuat baik dan benarnya ngga.

Aqidah (masalah hati, keyakinan) kan harus sinkron juga dengan akhlak (kelakuan, tampilan luar, perilaku, sifat). Karena yang namanya akhlak ya pancaran aqidah.

Makanya, memang nggak benar kalo sebagian orang berpendapat saya belum berniat berkerudung, mau memperbaiki perilaku dulu. Loh, yang namanya Aqidah dan Akhlak, harus berjalan beriringan. Dan diingat loh hidup ini terus menerus bergantung terhadap variabel waktu. Bila waktu hidup terputus, sia-sia niatan “berkerudung kalo sudah berakhlak baik” nya… 🙂

Jadi, sebagai seorang wanita yang sudah mengazzamkan dirinya untuk berjilbab, peliharalah jilbab ini. Pelihara dalam artian, selami maknanya, terapkan dan pancarkan esensinya. Jaga nama baik jilbab ini. Malu kan kalo kepalang dicap muslimah liar…?

Dan yang berjilbab, mari segera berjilbab, karena kita ngga tahu kapan variabel waktu dalam fungsi hidup ini akan dicabut oleh Allah SWT.

Wallahu alam..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 27, 2013 by in hikmah, lifestyle, Religy.
%d bloggers like this: