Sundus Mirrotin's Weblog

life is words, just share it! ^^

Umur dan Level Persoalan Hidup

Kemarin, kebetulan saya sedang memutuskan bagaimana caranya untuk kembali mencintai transportasi publik walau harus merelakan dana lebih dalam sehari. Saya naik ojeg, angkot dua kali, dan berakhir di angkot gratis kampus.

Sewaktu saya di angkot cibiru, hanya ada 2 penumpang di sebelah saya, seorang ibu dan anak kecil laki-laki. Anak kecil itu senyum senyum sendiri, ketawa sendiri, mengunyah makanan sendiri. Setelah makanan di dalam mulutnya habis dia kunyah, dia buka lagi satu bungkus makanan dengan cara menggigit gigit bungkusnya. Nampaknya gembira sekali ya dia, sementara sepanjang perjalanan di angkot itu pikiran saya ada pada revisi skripsi untuk seminar jurusan minggu depan, saya iseng aja berimajinasi, coba saja nak kalo guru di sekolahmu kasih revisi sama tugas-tugas gambarmu, kamu pasti ngga sempet ketawa ketawa,…..

Singkatnya, sampailah saya di gerbang kampus, dan saya pun menaiki angkot gratis kampus untuk lingkar luar (yang biru itu loh). Rasanya, terakhir saya naik angkot gratis ini waktu saya masih semester 4 an, karena semester selanjutnya saya rutin naik motor kemana-mana. Di dalam angkot, dua orang maba cowo yang wajahnya masih cupu cupuuuu sekali dengan celana bahan dan kemeja kotak kotak yang harus dimasukkan ke dalam celana itu, ngobrol dengan asyik dan sedikit bernada tinggi (re : rariweuh). Saya pikir masalah besar seperti apa yang sedang mereka bicarakan sampai memenuhi kebisingan satu angkot gratis ini, sampai-sampai juga harus saling bersahutan dengan keras karena tempat duduk mereka cukup berjauhan. Saya kepoin lagi lebih dalam, ternyata ngomongin laporan akhir praktikum fisika dasar.

A : eh kamu udah beres ngerjain laporan fisika?

B : udah, semalem ngerjain

A : haduh, katanya total semua isinya harus ada minimal 25 lembar ya?

B : total apanya?

A : iya total semua kertas yang ada di laposan itu, harus ada minimal 25 lembar

B : oh iya gitu? ah, aku mah lebih dari segitu kayanya

Karena si B ngomongnya pede banget dengan laporan yang lebih dari 25 lembarnya itu, si A nampak jiper sekali. Dia tiba-tiba menunjukkan gelagat panik dan kompetitif. Takutnya kena failed atau yang lain lain. Saya pikir, ah, benar juga dulu waktu saya masih maba, ketakutan setengah mati kalo laporan fisdas belum sempurna. Begini loh rasanya melihat saya dulu…

Kemudian kedua maba tersebut dan beberapa penumpang turun di sebuah fakultas. Lantas naiklah segerombolan mahasiswi keperawatan yang sepertinya semester 7, karena mereka sudah ancang-ancang mau seminar usulan penelitian.

A : Ih aku laporannya salahnya dikit dong, masa harus ngeprint lagi (sambil megang laporan)

B : Iya nih aku juga ngeprint segitu berapa duit ya? 19 lembar loh. Mana printer aku lagi rusak

Selanjutnya saya lupa mereka ngobrolin apa, yang pasti mereka panik dengan mesti merevisi laporannya yang isinya 19 lembar. Kemudian mereka membicarakan tentang penelitian yang akan mereka ambil nantinya~ They’re panic easily~

Saya jadi berfikir juga, dulu sewaktu saya masih semester 7-an, saya juga panik ngga karuan waktu besoknya mau presentasi PDGF tentang MT, karena bahan materi yang saya pahami takut salah, ngga guna, dll.

Kemudian saya lanjut berbincang-bincang dengan sahabat-sahabat saya di kampus. Kami berbincang mengenai pernikahan, karena salah satu dari kami ada yang mau menikaaaaaah oktober ini 😀 Tidak hanya soal pernikahan, kami pun berbincang mengenai seseorang yang sedang bermasalah dengan satu hal yang sebenarnya sepele. Nah kan ternyata benar, semakin bertambahnya waktu, semakin level permasalahan itupun meningkat pula. Bagi seorang yang mau menikah, berantem dengan temen kampus adalah hal ecek-ecek yang ngga perlu dipermasalahkan bertahun tahun 🙂 Inilah keuntungannya sharing~ kita seakan bisa melihat ke masa depan nantinya kita akan berpikiran dewasa juga seperti dia, maka dari itu hindarilah mempermasalahkan hal sepele~

Ternyata ya, semakin bertambah umur kita, semakin bertambah level juga permasalahan kita.

Ternyata ya, semakin bertambah umur kita, semakin bertambah level juga permasalahan kita. Saat kita jadi maba, hal sepele semacam buat laporan mekucil adalah hal terparah dan ternyakitin pada masa itu, karena harus begadang, ditambah capek karena mabim terus, dll. Saat kita jadi mahasiswa semester 5, yang namanya berorganisasi beruntun adalah hal super nyibukin yang menyita waktu dan banyak pressure dari berbagai pihak. Saat kita jadi mahasiswa semester 7 kita juga suka gampang panik dan riweuh tiba-tiba karena presentasi tentang satu materi baru yang terlihat susah karena banyak penurunan rumus tentang pengolahan sinyal dll. Saat sekarang kita (saya sih tepatnya) sedang jadi mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang mendapatkan gelar S.Si, mau seminar jurusan saja saya panik juga karena takut penguji ngga puas sama apa yang saya presentasikan. Saya takut, TA yang selama ini saya kerjain adalah TA sepele yang ngga ada artinya~

Ternyata, ketika sekarang saya melihat maba yang sedang panik, mahasiswa junior yang panik juga karena mau presentasi doang, saya malah berkomentar, “tenang aja, semuanya nyantai kok ngga seseram yang dibayangkan”. Dan itulah komentar teman-teman saya yang sudah pernah melewati masa-masa menyenangkan memperjuangkan gelar S.Si pada saya sekarang.

Karena masalah itu akan selalu terlihat nampak besar bila imajinasi kita terus merawat masalah tersebut hingga besar

Saya menulis artikel ini hanya bermaksud meyakinkan diri saya sendiri tentang kekurangpedean saya maju seminar jurusan yang terlihat menyeramkan karena sudah masuk penilaian penguji. Saya sih bodo amat mau ada orang yang berfikiran saya sok bijak menasehati padahal sayanya galau-galau, aslinya bodo amat. Karena hidup ini dinamis, selalu berjalan seiring waktu. Bisa jadi sekarang jiwa saya bangkit, bisa saja setelah ini jiwa saya melemah. Mungkin memang terkesan egois karena seakan saya menulis untuk diri saya sendiri, tapi memang terkadang sikap bodo amat itu perlu untuk orang yang selalu mengomentari dinamika hidup orang lain~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 27, 2013 by in hikmah, School/College, self.
%d bloggers like this: