Sundus Mirrotin's Weblog

life is words, just share it! ^^

Hikmah dari Seorang Asisten Rumah Tangga

Dipertemukan dengan seorang asisten rumah tangga dari sebuah daerah yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan yang wajar. Mulanya datang kesini, belum berjilbab, dan berbahasa kasar. Lambat laun, dengan tujuan kami mengajak pada masa yang lebih baik, ia pun akhirnya mau berjilbab dan berbahasa lebih halus. Prosesnya pun tidak sebentar, lama, dan sejujurnya menguras emosi, karena menghadapi seseorang yang wataknya keras itu tidak mudah lho…

Anggap saja saya bercerita tentang keadaan seseorang bernama Bunga. Anda tahu? Bahwa daerah tempat dimana dia lahir jauh sekali dari peradaban listrik dan transportasi. Terpencil sekali walau masih di daratan Jawa. Aktivitas pemuda pemudinya pun tidak jelas.

Daerah tersebut, dikenal sebagai daerah tempat sarang narkoba. Ya, karena memang desanya itu desa sekali. Jauh dibawah desa mungkin. Listrik pun masih harus saling berbagi. Melalui Bunga, kami diperkenalkan secara eksplisit mengenai daerah yang belum pernah kami datangi itu.

Listrik saja begitu, apalagi dalam segi ekonominya. Pemuda disana kurang produktif. Kebanyakan dari mereka pergaulannya sudah terlanjur bebas, sangat bebas. Anda mungkin kenal dengan istilah pacaran? Pacaran disana lebih jorok dibandingkan definisi pacaran yang sering saya lihat di kota saya (atau saya mungkin terlalu awam tentang teknik2 berpacaran? -_-)

Bahkan Bunga sendiri masa kecilnya hampir dijual pada om om hidung belang. Yang membuat kaget adalah, Ibunya sendiri yang menjualnya. Ayah Bunga entah kemana, katanya beristri lagi… Bunga pun diasuh oleh pamannya yang alhamdulillah lebih mengerti agama. Dididiknya lah dengan lebih manusiawi, setidaknya hidupnya tidak terlalu liar.

Menurut ceritanya, Bunga ini pernah bekerja sebagai TKI di China, menjadi seorang babysitter satu orang bayi. Sebulan lumayan gajinya 500-600rb walaupun kerjanya seharian penuh harus siap siaga memenuhi kebutuhan si anak. Ibadah? Jangan harap ada waktu untuk itu di negara tersebut. Kemudian, pernah juga Bunga ini bekerja di Jakarta sebagai asisten rumah tangga (ART) yang majikannya seorang lesbian. Pernah juga, si Bunga ini menjadi ART di keluarga non-muslim. Bisa ditebak kan bagaimana kehidupannya? Untuk mengasuh anak kecil di keluarganya pun harus di gereja, keluarganya ibadah pun harus ikut, bukankah ada misi dibalik itu semua?

Lalu sekarang, ditempatkan di sebuah keluarga muslim taat yang tahu bagaimana memperlakukan manusia itu dengan cara yang santun. Sudah berjilbab pula dan sempat belajar mengenai arti ketauhidan, ibadah, bahwa hidup memang adalah ibadah, bukan hanya mengejar uang semata. Namun, mungkin dikarenakan Bunga ini belum sempat menyelesaikan sekolah dasarnya, masa kecilnya dihiasi dengan keras dan didikan yang tidak baik dari kedua orangtua kandungnya, Bunga ini masih sangat labil. Menurut saya, pendidikan itu akan mempengaruhi pola pikir seseorang. Untuk seorang yang terpelajar, tentu pikirannya akan lebih jauh dan lebih matang, sehingga perencanaannya pun dibuat dengan baik. Namun, untuk seorang yang tidak terpelajar, dan dikejar oleh kebutuhan perut yang memaksa, akan mengubah orientasi hidup orang tersebut. Disinilah letak peran seorang akademisi. Agar belajar itu bukan hanya untuk dirinya, tapi juga merangkul saudara-saudara yang belum sempat mengenyam pendidikan. Mengajar dari cara hidup~

Pada akhirnya Bunga memilih berhenti bekerja, karena satu dan lain hal yang sepele. Ya begitulah seseorang yang berpikir pendek. Sedikit menemui masalah, tidak berani di hadapi, malah dihindari. Katanya, sekeluarnya ia dari rumah tersebut, ia berencana bekerja di sebuah pabrik konveksi yang kerjanya monoton walau gajinya secara nominal sama dengan gaji menjadi ART. Entah…. saya pun tidak mengerti bagaimana cara berpikir Bunga. Saya hanya bisa berharap Bunga tetap teguh pendirian dengan motivasinya yang ingin membuat perubahan di daerah asalnya tersebut. Ya, dia pernah menyinggung niatnya ingin memajukan perekonomian di daerahnya. Entahlah, entahlah….

pic source

Hal penting dari kehidupan Bunga yang saya petik adalah, saya sebagai akademisi yang alhamdulillah punya kesempatan sekolah hingga S1, sudah seharusnya berfikir lebih luas lagi. Saya ini sekolah bukan hanya untuk memenuhi keinginan saya dalam melahap ilmu, melainkan harus juga bisa memberi pengaruh sehingga terangkat derajat saudara yang lain. Yang paling miris adalah, para buruh dalam segala profesi ini mayoritas adalah muslim… Dimana peran saya….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 10, 2013 by in hikmah, just celoteh.
%d bloggers like this: