Sundus Mirrotin's Weblog

life is words, just share it! ^^

Si Penempuh

Saya jadi ingin berkoar lagi, tentang bagaimana pentingnya menempuh sesuatu dari bawah, dan menghargai si penempuh itu.

Seseorang ngga akan bisa menjadi besar, kalo ngga pernah ngerasain bagaimana menjadi kecil. Orang yang menjadi besar secara instan, pasti akan cepat expired, karena dia tidak paham bagaimana menjadi orang kecil itu, karena sebagian pekerjaan teknis adalah pekerjaan orang kecil.

Contohlah sebuah organisasi. Untuk terpilih sebagai ketua, ia harus memiliki track record yang mumpuni, yang menjadi modal kepercayaan rekan setimnya bahwa ia mampu meng-organize kumpulan tersebut. Artinya, tidak ada orang biasa yang tiba-tiba menjadi ketua, yang tiba-tiba menjadi atasan, yang tiba-tiba menjadi manager, direktur, komisaris, apalah itu. Kalaupun ada, saya katakan sekali lagi, ia akan lebih cepat expired (kecuali bila ternyata ada kemampuannya 100% disana).

Jangan kira atasan yang selama ini selalu dicerca-cerca para pegawai di media sosial adalah seorang yang hobinya nyuruh-nyuruh saja, yang kerjaannya irit-irit honor. Ia tentu berpikir lebih jauh dari apa yang dipikirkan bawahannya, ia lebih pusing lagi saat tidak ada tender proyek yang berhasil, memikirkan staf2nya nanti dapat penghasilan darimana? Ia terlalu takut memberi ruang kebebasan tanpa ada pengikatnya (honor itu tergolong pengikat loh ternyata). Akhir-akhir ini saya jadi paham, bagaimana masyarakat Indonesia itu masyarakat yang edan! Menuntut gaji tanpa memenuhi kewajibannya. Cobalah katakan buruh sekarang-sekarang ini sibuk demo gaji minta dinaikkan, apakah sepadan dengan kualitas bahkan kuantitas pekerjaannya??

Seorang atasan pun pasti pernah jadi bawahan…

Ya, hal ini yang selalu ingin saya katakan pada semua orang. Mereka pernah paham bagaimana menjadi orang yang hanya disuruh-suruh. Apalagi bila organisasi atau perusahaannya adalah perusahaan yang dirintis sendiri benar-benar dari nol. Susahnya menstabilkan perusahaan itu minta ampun katanya. Bikin pusing. Lebih pusing lagi kalo ibarat kata sudah membangun gedung dari lantai 1 sampai lantai 20, tiba-tiba satu pondasi tiang di lantai 2 roboh, maka gedungnya akan goyah. Padahal, untuk membangun 20 lantai tersebut, lantai 3 hingga 20 sudah memberi kepercayaan penuh bagi lantai 2 untuk kokoh bertahan walau ada gangguan dari luar.

Wallahualam, kita hanya manusia yang bisa berencana, tetap Allah yang Mengatur segala skenarionya. Tapi ingat, kita jualah penentu ingin berada di skenario yang baik, atau tertindas oleh kata-kata semu “saya hanya ikut jalan-Nya” tanpa berupaya memperbaiki kesalahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 11, 2014 by in hikmah.
%d bloggers like this: